Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2023

Mencintai dengan Sewajarnya

Banyak orang yang terlampau patah hati ketika ditinggal pergi oleh pasangannya, sampai terkadang saya melihatnya sedikit merasa bingung, canggung, iba. Tak jarang terbesit dalam pikiran, betapa tega dia yang meninggalkan pasangannya itu. Tidakkah dia mengetahui betapa pasangan yang ditinggalkan itu teramat histeris dalam menangisinya, terlihat bahwa ia begitu amat mencintai kekasihnya itu. Namun makian itu segera saya tepis, sebab, sebab saya tidak mengetahui bagaimana hubungan mereka berjalan, problematika apa yang sebenarnya terjadi.  Begitulah cinta. Vase nya naik turun. Terkadang mungkin seseorrang yang sedang jatuh cinta itu berada di vase di mana bahagia teramat sangat hingga merasa bahwa dunia itu milik berdua. Namun di lain sisi kesedihan itu tidak dapat dielakkan bahwa ia akan datang. Teramat mencintai seseorang itu juga tidak baik, sebab kecenderungannya adalah, kebahagiaan akan digantungkan pada pada pasangannya. Yang sama-sama kita ketahui bahwa di dunia ini tidak ada p...

Bahwa yang Bukan Untukmu Akan Selalu Menemukan Jalannya Untuk Pergi

 Heiii!! Dia kini meninggalkanmu, memilih untuk pergi jauh, berpamitan dan tidak menjanjikan untuk datang kembali. Tidak mengapa. it's okey. Seperti judul di atas. "Bahwa yang Bukan Untukmu Sekuat Apapun Kamu Menggenggam, pada Intinya Dia Akan Selalu Menemukan Caranya Untuk Meninggalkan" Datang dan pergi adalah suatu moment yang selalu dijanjikan semesta untuk hal apapun yang melibatkan pertemuan. Namun meskipun kamu telah mengetahui hal itu, tetap saja hatimu kapanpun itu tidak menginginkan untuk kepergian. Katamu, "Plis jangan sekarang, aku masih mencintainya, aku masih membutuhkannya, aku masih ingin bahagia bersamanya" bahkan jika ada kesempatan kamu selalu meminta agar biarkan waktu berhenti sekarang ketika kamu sedang bersamanya. Lihatlah betapa amat kamu mencintainya hingga tak ingin bahwa seseorang yang kamu cintai itu nantinya pergi meninggalkan. Kamu lupa, bahwa waktu tidak akan memberikan toleransi akan hal itu, waktu akan selalu memiliki caranya send...

Dear, Selamat Jalan-Berbahagialah

                                                                                            (credit: freepik.com "Apa kau baik-baik saja, dear? Apa kau menginginkan kita sampai di sini saja?" ucapku sambil meneteskan air mata                                                                                                                    kaupun membalasnya dengan penuh penyesalan, terlihat di wajahmu.      ...

Sudakah aku Bertanggungjawab atas Keputusanku?

Memulai memanglah suatu perkara yang mudah, aku sebagai manusia tidak pernah luput juga dari keinginan untuk ini dan itu namun sudakah aku bertanggungjawab terhadap keputusan yang aku ambil itu? Hari itu, di tengah malam yang sedikit berisik aku telah mengizinkan seseorang menjadi telinga untuk mendengar segala keluh kesah termasuk tawa. Seseorang yang saat itu bukan siapa-siapa. Obrolan yang semakin larut semakin kita menggunakan hati masing-masing untuk obrolan itu. Sampai pada suatu ketika di mana perasaan ini bagaikan diguguri bunga-bunga mekar, tak pernah sebersit pun terlintas di pikiran akan hal itu, tak pernah sedikitpun untukku mengira bahwa ia telah menyatakan keinginannya untuk meminangku dan menjadikanku bunga di kebunnya. Dan ketika itu aku mengiyakan semuanya, bersamaan dengan itu akupun menyadari bahwa akan ada resiko yang akan aku hadapi. Bersaing dengan hama misalnya, awal sempat bimbang dalam diri ini, akankah aku sanggup bertanggungjawab atas keputusan itu? untuk men...

Sedangkah Kita Jauh?

 Pagi ini tidak secerah kemarin Badanku dingin diguyur angin rindu Meski selimut tebal membungkus sekujurr wajah hingga kaki Namun angin rindu ini tak sanggup kutepis dengan selimut hangat sekalipun Siapa lagi tuan jika bukan dirimu Aku merindukanmu sembari berrrharap kau beri ucap selamat pagi kala dulu Aku merrindu sembarri berharap kau tanyakan sedang apa aku Aku merrindu kau tanya sudah makankah aku Namun harapku hanya sampai pada frasa bahwa engkau sedang memintaku diam sejenak Engkau sedang ingin berdamai dengan diri sendiri Engkau masih belum usai dengan dirimu sendiri Engkau hanya terdiam tanpa sanggup bercerita padaku Tuan, sedang marah kah engkau? Atau sedang apa engkau? Inginku menanyai kabarmu hari ini namun aku takut menggaggu  Sebab yang kutahu kau sedang kalut di sana Mungkin aku hanya dapat diam Menggenggam bayang-bayang erat tanganmu Merasakan aroma rindu bersama tangis sayu mataku Aku mencintaimu tuan, meski kita sedang jauh kini

Hatiku yang memilih tidak sanggup

Kuceritakan kembali sembari meneteskan air mata kerinduan Kepadamu tuan, namamu tersemat Dalam bait doaku pun kalbuku Berdengung pada gema petangku Bolekah sejenak untuk kupeluk jiwamu sebelum direnggut pergi Aku mencintaimu segenap raga dan hatiku menjadi satu Bahkan jika berkenan janganlah pergi, tuan Kembalilah dalam dekap sayu-sayu keraguan Engkau yang mengajarkanku mengenai keikhlasan Engkau yang membawaku terrbang dan mengenal keindahan Engkau yang mengajakku mengerti kejujurran Engkau yang memberiku banyak keindahan warrna pada pelangiku Tuan jika kau pamit apakah aku akan sanggup Tanpa melihat kelopak matamu lagi Apakah aku akan sanggup menatap kekosongan beranda whatsapku Apakah aku akan sanggup menjalani harri-harriku Denganmu tuan, hati yang keras ini mencairrr kembali Denganmu tuan diri yang tak punya rumah ini kembali menemukan tempat singgah Janganlah sengaja menjauh dariku Janganlah berpaling darriku, karena aku mencintaimu

Ayahku Bukan Badut

 Ayah.. Kulihat kelopak matamu yang hitam kegelapan Telapak kaki yang tidak lagi terlihat garisnya Tangan yang terlihat ruas-ruas tulangnya Aku melihatmu sebatang kara Dengan anak dan istri namun kau kepayang Berlabuh pada samudra yang terbentang namun hanya seorang Jerit payahmu tak ingin kau bagikan dengan kami Ayah.. Aku ingin mendengar sekali saja keluhan dari bibirrmu Aku ingin menatap tangis pada matamu sebab telah kepayang Aku mengetahuinya ayah, namun aku diam Aku tahu, bahwa kesakitan itu sejujurnya sedang kau simpan rapi Di brankas dan hanya kau yang dapat menengoknyaa Namun ayah, biarkan jika itu pedih limpahkan padaku Jika tidak pada ibu, biar padaku saja Ayah.. Aku ingin melihat senyum lebarmu namun bukan tipuan Aku ingin melihatmu sebagai ayahku, bukan badut Badut yang menggelitikkan isi kepalaku namun isi kepalamu sedang berantakan

Jingga Yang Misterius

Jingga sudakah kau berdamai dengan diri sendiri? Mata yang lebam beberapa kau poles cream siang-malam agar apa jingga? agarr terlihat cantik menawan? Agar kepura-puraan itu tetap berjalan Hendaknya kau adalah remaja cantik yang dijuluki bocah Hendaknya kau memang menarik serta menawan Terrlihat tak perrnah menangis saban harinya Bibir yang menggambarkan bulan sabit Kelopak matamu bak tetesan air yang mengkristal Rambutmu yang terrgerai menawan Cantik, sungguh amat cantik Menawan, kuakui kau amatlah menawan Namun aku melihatmu adalah suatu kepura-puraan belaka Aku melihatmu jauh amat berbeda dari yang sesungguhnya aku perrhatikan Engkau adalah wanita cantik dengan sejuta misterius Hanya engkau sendiri yang mampu mengetahui itu Namanya jingga, Ia adalah tokoh utama dalam ceritaku, aku menjadikannya tokoh utama. sebab.. sebab jingga adalah wanita yang berparas manis. dengan bulu matanya yang lentik, kulitnya yang kuning ke sawo matangan. jingga yang random dan ngga bisa ditebak maunya apa...

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi Tuan, hari ini kudapati relung hatiku tersayat Dengan elok kau ucap selamat pagi namun itu sekadar muslihat Teruntuk saya, teruntuk dirimu sendiri Betapa engkau kini telah tak sanggup saya pungkiri Tuan, mungkinkah engkau tetap menjadi payung saya yang teduh? Mungkinkah tuan engkau tiada lagi gaduh Perihal mencintaiku yang benar-benar dan diam Serta perihal aku yang mencintaimu dengan kepayang Tuan hari ini kau katakan bahwa asmara sedang kau kesampingkan Hari ini juga kau robohkan tembok kepercayaanku Hari ini kau pertegas anganku, bahwa aku hanyalah bunga diam yang kapansaja siap kau hinggapi Kaulah kupu itu yang terbang bebas, sedang aku hanya mengharap-harap kau kembali Tuan, benar aku mencintaimu Namun cinta ini demi sedikit membuatku layu Kadang aku mempertanyakan, kadar cinta yang kau beri, apakah itu ketulusan? Tuan, betapa sempurrna kau buat hatiku tersayat hebat Malam itu Tuan Aku bersikap bahwa aku tidak apa-apa Berlaga seperti aku sedang ...