Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2023

Merindukanmu adalah Pekerjaan Paling Menyebalkan

Pada malam itu,  Antara sunyi dan keramaian, dingin dan kehangatan, untuk kali pertama lensa mataku menatap kagum angkasa beserta cantik rembulannya, menatap kagum nelayan pada gelap malamnya. Tubuh ini menjadi saksi tiap hembus kenikmatan yang disuguhkan malam dengan elegannya. Menatap remang-remang lampu kota yang jauh di sudut sana, menatap perahu yang berlayar mengarungi pantai, dan banyak lagi kecantikan yang kusaksikan dengan cukup pada lensa mata, bukan kamera. Malam itu terlihat ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor, dengan para pedagang kaki lima yang berbondong-bondong mendapatkan secuil penghasilan untuk dapat bertahan hidup, dengan teriakan bapak tukang parkir, dengan kerlap-kerlip bintang, dengan gemericik ombak yang menyapu bibir pantai. Tergambar nampak berisik, namun berisik itu tak mampu mengalihkan kerinduanku terhadapmu, aku masih sepi, pra yang mengusir kebisingan itu dari kepalaku, hanya pra yang membuat kegaduhan di sana, menciptakan drama yang terus men...

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Mengertilah, aku hanya berpura-pura

Di sudut kota yang ramai akan lalu-lalang kendaraan bermotor, aku terdiam, menyaksikan mereka yang mewarnai liku jalanan. Beberapa aku mendengar klakson kendaraan dibunyikan oleh pengemudinya, aku mendernya dan abai. Namun satu pengendara yang berhasil membuatku teramat marah, kesal, mengumpat. Bukan perkara klakson, bukan juga perkara bisingnya, namun perkara keindahannya yang hanya lewat sebentar. Aku ingin lebih menyaksikannya, setidaknya beberapa menit saja untuk memanjakan mata dalam mengimajinasikannya dalam kepala. Namun ia kelewat angkuh, hanya melintas sepersekian detik lantas meninggalkan sebuah kekesalan, harapan, kebahagiaan, sedih, menyakitkan. Kehadirannya hanya memporak porandakan pondasi terbiasa yang melekat dalam kepalaku, dalam isi dan gemintangnya.  Sampai detik ini, detik menuju senja pada tempat peraduannya aku tak kunjung juga menemuimu, nampaknya kau hanya mampir sekali, tanpa ada pengganti, tanpa ada ke dua kali. 11.25

Memanglah Seorang Badut

logika; "Selamat malam hati..apakabarmu hari ini? sedangkah baik-baik saja? sedangkah menangis seperti hal-nya kemarin? sedangkah besedih? sedangkah gundah?.... sedang apakah?" Hati; "sedang sakit dan tersayat, sedang menangis dan gelisah, sedang tidak ingin ada kehidupan dan dituntut kuat terus. Sedang ingin istirahat dari semuanya" Logika; "kenapa? ada apakah dengan kamu? namun aku melihatmu selama ini tidak se menyedihkan itu, aku melihatmu begitu amat bahagia"  Logika... andai kau tahu, bahwa kepura-puraan terkadang diperlukan untuk menghadapi dunia yang tidak peduli Hati; "begitulah cara estetikku untuk mengarsipkan luka, kamu tidak akan pernah paham" ________________ memang, memang hidup adalah seni permainan. Terkadang menjadi pemeran, terkadang pula menjadi pameran. Silih bergantinya menyambuk dan mengelus diri yang kadang lemah dan bahkan ingin lapuk. Dunia memaksa untuk bangkit. Katanya, " jangan menyerah, kamu kuat kog ". Tun...