Langsung ke konten utama

Memanglah Seorang Badut

logika; "Selamat malam hati..apakabarmu hari ini? sedangkah baik-baik saja? sedangkah menangis seperti hal-nya kemarin? sedangkah besedih? sedangkah gundah?.... sedang apakah?"

Hati; "sedang sakit dan tersayat, sedang menangis dan gelisah, sedang tidak ingin ada kehidupan dan dituntut kuat terus. Sedang ingin istirahat dari semuanya"

Logika; "kenapa? ada apakah dengan kamu? namun aku melihatmu selama ini tidak se menyedihkan itu, aku melihatmu begitu amat bahagia" 

Logika... andai kau tahu, bahwa kepura-puraan terkadang diperlukan untuk menghadapi dunia yang tidak peduli

Hati; "begitulah cara estetikku untuk mengarsipkan luka, kamu tidak akan pernah paham"

________________


memang, memang hidup adalah seni permainan. Terkadang menjadi pemeran, terkadang pula menjadi pameran. Silih bergantinya menyambuk dan mengelus diri yang kadang lemah dan bahkan ingin lapuk.

Dunia memaksa untuk bangkit. Katanya, "jangan menyerah, kamu kuat kog". Tuntutan itu yang terkadang membuat sebagian dari kita mau tidak mau dipaksa untuk terus berjalan dan berjalan,sampai menunggu panggilan dari Tuhan. 

Sebenarnya kita adalah badut pada istana orang lain. Bukan menjadi diri sendiri adalah peran yang kerap kita mainkan. Sudah menjadi tuntutan, bersikap seolah tidak apa-apa, bersikap seolah sedang bahagia, sedang tidak ada beban apapun, dan profesionalisme dipertaruhkan. Begitulah sejatinya kita adalah seorang badut, dengan topeng dan kostum elegannya, menari diiringi musik lalu menghibur sekitar hanya demi terlihat lucu. Mereka mana tahu di balik itu mata yang tertutup topeng tengah basah kuyup air mata, mereka mana tahu badan yang berbalut kostum dipenuhi cucur keringat. Yang mereka tahu bahwa badut itu tersenyum(dengan topengnya), yang mereka tahu badut itu tengah bahagia dengan tariannya. Mungkin kita selama ini memanglah seorang badut..

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Tanpa Kejelasan

Picture; pinterest Jadi selamat tinggal yaa Dengan siapapun kamu nanti, aku cuma mau bilang Bahwa yang penting dari suatu cerita adalah titik akhir yang pasti jangan biarkan ia ditulis terus tanpa kejelasan akan berhenti di mana cerita panjang namun tidak menentu, ternyata lebih jahat daripada cerita yang selesai jangan pernah bilang jalanin aja, cuma karena kamu takut buat bilang engga

Kamu dekat namun tak tergapai

 Pra..  Aku sedang melihatmu di sana Memasang mimik muka pasang persis air pantai  Kau memandangku dengan tatap bening seolah ingin meneteskan air mata Pra.. Ada apa denganmu hari ini? sedangkah aku membuatmu terluka? Sedangkah aku mengecewakanmu?  Hidupku tidak semenarik hidupmu, pra. maka jangan kau berantakkan isinya Sungguh aku amat mengagumimu Walau aku tahu kita tak akan pernah Aku mengharapkanmu Walau aku tahu akan hancur karenanya  Pra..  Sungguh jika terluka hatimu, maka terluka pula aku Jika lulu lantah isi kepalamu Maka punyaku telah lebih dulu pecah Aku ingin menggapaimu pra Namun aku menyadari bahwa tidak mungkin Aku ingin menjadi putri bunga yang selalu kau kagumi  Namun bukanlah engkau, akulah yang mengagumimu, biarkan aku saja Maka biarkan aku bahagia Bahagia dengan terus ber-angan Hingga pecah isi kepalaku Hingga terkoyak seluruh jiwa dan nadiku