logika; "Selamat malam hati..apakabarmu hari ini? sedangkah baik-baik saja? sedangkah menangis seperti hal-nya kemarin? sedangkah besedih? sedangkah gundah?.... sedang apakah?"
Hati; "sedang sakit dan tersayat, sedang menangis dan gelisah, sedang tidak ingin ada kehidupan dan dituntut kuat terus. Sedang ingin istirahat dari semuanya"
Logika; "kenapa? ada apakah dengan kamu? namun aku melihatmu selama ini tidak se menyedihkan itu, aku melihatmu begitu amat bahagia"
Logika... andai kau tahu, bahwa kepura-puraan terkadang diperlukan untuk menghadapi dunia yang tidak peduli
Hati; "begitulah cara estetikku untuk mengarsipkan luka, kamu tidak akan pernah paham"
________________
memang, memang hidup adalah seni permainan. Terkadang menjadi pemeran, terkadang pula menjadi pameran. Silih bergantinya menyambuk dan mengelus diri yang kadang lemah dan bahkan ingin lapuk.
Dunia memaksa untuk bangkit. Katanya, "jangan menyerah, kamu kuat kog". Tuntutan itu yang terkadang membuat sebagian dari kita mau tidak mau dipaksa untuk terus berjalan dan berjalan,sampai menunggu panggilan dari Tuhan.
Sebenarnya kita adalah badut pada istana orang lain. Bukan menjadi diri sendiri adalah peran yang kerap kita mainkan. Sudah menjadi tuntutan, bersikap seolah tidak apa-apa, bersikap seolah sedang bahagia, sedang tidak ada beban apapun, dan profesionalisme dipertaruhkan. Begitulah sejatinya kita adalah seorang badut, dengan topeng dan kostum elegannya, menari diiringi musik lalu menghibur sekitar hanya demi terlihat lucu. Mereka mana tahu di balik itu mata yang tertutup topeng tengah basah kuyup air mata, mereka mana tahu badan yang berbalut kostum dipenuhi cucur keringat. Yang mereka tahu bahwa badut itu tersenyum(dengan topengnya), yang mereka tahu badut itu tengah bahagia dengan tariannya. Mungkin kita selama ini memanglah seorang badut..
Komentar
Posting Komentar