Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

Dengan Pemaknaan Cinta Yang Masih Cacat

picture; pngtree Malam ini semakin larut semakin kemelut Dengan apa-apa yang bergumam pada isi kepala Tidak sebegitu hebat pertempuran di dalamnya, namun sanggup membuat rambutku gugur satu per satu Sanggup meluluh lantahkan condisioner yang usianya sudah mencapai satu tahun Malam ini aku menyaksikan cinta sebagai kekacauan Di jendela kamarku, di atap almariku, di rak buku, hingga rak kosmetik Ia memberantakkan satu per satu susunan barang berhaga yang telah rapi Ia merenggut hebat senyuman gadis manis pemilik lesung pipi Dia jahat bukan? Cinta itu egois kan? Cinta itu derita  Cinta adalah malapetaka Detik itu juga aku telah mengutuk cinta sebagai rumah angker Menganalogikannya sebagai kesiasiaan Menuduhnya sebagai kedurhakaan Menyamakannya dengan ketidaklogisan Begitu amat mengerikan cinta menurutku Namun tenanglah, bukanlah aku pembenci cinta Hanya saja pemaknaanku terhadapnya yang masih cacat Masih sangat rawan diterjang badai, dan masih sangat dini untuk dituai

Biarkan Aku Pamit

picture;muslimobsession.com Senja sore ini bernafaskan keramaian Peluk dan mendekap pada pundakku yang hampir gugur Aku menikmatinya, tidak berdua, sendiri saja Menepi, menyaksikan bayangnya yang hendak berpamit Kulihat jam tanganku jarumnya menunjuk pukul enam sore Ingin bergegas, berkemas, dan lekas berpulang pada rumah singgah Namun warnamu menarik tanganku agar jangan pergi dulu Kau masih ingin mengajakku bersenda gurau, bernostalgia. Namun aku tidak lagi kuasa Aku ingin pergi, sebab menikmati keindahanmu sudah vasenya untuk reda Aku tidak ingin berlama-lama di sini Tidak ingin dibuai oleh janji yang tidak abadi Tidak ingin terbuai oleh andai-andai Senja, kau indah namun aku tidak begitu sanggup melihatmu berpamit Sebab hatiku sepayah spons yang tidak kokoh pilarnya Senja, bersamaan dengan berpamitmu, akupun juga akan berpamit Semoga masih ada hari esok untuk kita bertemu kembali 15:12

Rindu bukan Milik Kita

                                                                                picture; pixabay Malam ini rindu menempa dadaku  Ia menyapa dalam wujud sesak nan menggelitik  Tiba-tiba ia bertanya pada hati perihalmu " sedang apakah kau di sana?" "Sedangkah kau baik-baik saja?" "Sedangkah kau merindukanku selayaknya aku merindukanmu?" Rindu ini ingin rasa kusampaikan namun apalah, rindu ini hanyalah suara tanpa kata. Ia bisu, anak tiri, tak berdaya, hanya sanggup menerima waktu untuk membawanya pulang kembali  Kadang rindu ini rasanya ingin memaksamu untuk di sini  Menemani sisa-sisa waktunya dengan bergumam dan tertawa  Namun rindu ini kini terlampau jauuhh, jatuh dalam samudera yang paling dalam  Rindu ini kini bukan la...