Langsung ke konten utama

Dengan Pemaknaan Cinta Yang Masih Cacat

picture; pngtree



Malam ini semakin larut semakin kemelut
Dengan apa-apa yang bergumam pada isi kepala
Tidak sebegitu hebat pertempuran di dalamnya, namun sanggup membuat rambutku gugur satu per satu
Sanggup meluluh lantahkan condisioner yang usianya sudah mencapai satu tahun

Malam ini aku menyaksikan cinta sebagai kekacauan
Di jendela kamarku, di atap almariku, di rak buku, hingga rak kosmetik
Ia memberantakkan satu per satu susunan barang berhaga yang telah rapi
Ia merenggut hebat senyuman gadis manis pemilik lesung pipi

Dia jahat bukan?
Cinta itu egois kan?
Cinta itu derita 
Cinta adalah malapetaka

Detik itu juga aku telah mengutuk cinta sebagai rumah angker
Menganalogikannya sebagai kesiasiaan
Menuduhnya sebagai kedurhakaan
Menyamakannya dengan ketidaklogisan

Begitu amat mengerikan cinta menurutku
Namun tenanglah, bukanlah aku pembenci cinta
Hanya saja pemaknaanku terhadapnya yang masih cacat
Masih sangat rawan diterjang badai, dan masih sangat dini untuk dituai



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Kejelasan

Picture; pinterest Jadi selamat tinggal yaa Dengan siapapun kamu nanti, aku cuma mau bilang Bahwa yang penting dari suatu cerita adalah titik akhir yang pasti jangan biarkan ia ditulis terus tanpa kejelasan akan berhenti di mana cerita panjang namun tidak menentu, ternyata lebih jahat daripada cerita yang selesai jangan pernah bilang jalanin aja, cuma karena kamu takut buat bilang engga

Kamu dekat namun tak tergapai

 Pra..  Aku sedang melihatmu di sana Memasang mimik muka pasang persis air pantai  Kau memandangku dengan tatap bening seolah ingin meneteskan air mata Pra.. Ada apa denganmu hari ini? sedangkah aku membuatmu terluka? Sedangkah aku mengecewakanmu?  Hidupku tidak semenarik hidupmu, pra. maka jangan kau berantakkan isinya Sungguh aku amat mengagumimu Walau aku tahu kita tak akan pernah Aku mengharapkanmu Walau aku tahu akan hancur karenanya  Pra..  Sungguh jika terluka hatimu, maka terluka pula aku Jika lulu lantah isi kepalamu Maka punyaku telah lebih dulu pecah Aku ingin menggapaimu pra Namun aku menyadari bahwa tidak mungkin Aku ingin menjadi putri bunga yang selalu kau kagumi  Namun bukanlah engkau, akulah yang mengagumimu, biarkan aku saja Maka biarkan aku bahagia Bahagia dengan terus ber-angan Hingga pecah isi kepalaku Hingga terkoyak seluruh jiwa dan nadiku

Mengutuk Bus Jurusan Jogja

Sepanjang dua ribu dua dua aku mengutuk tiap-tiap bus jurusan jogja yang lewat di depan mata Melihat  mereka sama halnya mendaur ulang ingatan tentang kamu yang melangkah jauh dari bumiku. Sesaknya terasa lekat sampai-sampai merenggut ceriaku. Seperti bocah yang merengek kepada ibunya meminta dibelikan mainan; Aku terus menerus mengulang kalimat itu sampai banjir ingus. Membiarkan jantungku rungsap dilahap kangennya sendiri. Jogja tidak jauh asal kau masih bersamaku. Jogja tidak jauh asal kau masih kekasihku. Dan rindu tidak akan setragis ini kalau kita tidak pernah selesai. Tidak dengan alasan apapun.