Langsung ke konten utama

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi


Tuan, hari ini kudapati relung hatiku tersayat

Dengan elok kau ucap selamat pagi namun itu sekadar muslihat

Teruntuk saya, teruntuk dirimu sendiri

Betapa engkau kini telah tak sanggup saya pungkiri


Tuan, mungkinkah engkau tetap menjadi payung saya yang teduh?

Mungkinkah tuan engkau tiada lagi gaduh

Perihal mencintaiku yang benar-benar dan diam

Serta perihal aku yang mencintaimu dengan kepayang


Tuan hari ini kau katakan bahwa asmara sedang kau kesampingkan

Hari ini juga kau robohkan tembok kepercayaanku

Hari ini kau pertegas anganku, bahwa aku hanyalah bunga diam yang kapansaja siap kau hinggapi

Kaulah kupu itu yang terbang bebas, sedang aku hanya mengharap-harap kau kembali


Tuan, benar aku mencintaimu

Namun cinta ini demi sedikit membuatku layu

Kadang aku mempertanyakan, kadar cinta yang kau beri, apakah itu ketulusan?

Tuan, betapa sempurrna kau buat hatiku tersayat hebat


Malam itu Tuan

Aku bersikap bahwa aku tidak apa-apa

Berlaga seperti aku sedang menjadi air tenang, menerima dengan lapang

Namun kau tahu, hatiku sedang remuk seperti dibantai tujuh belatih. Seperti biasa, kau tidakkan paham


Namun biarlah,

Bukankah jatuh cinta adalah kepada siapa kita bersedia untuk patah hati

Resiko ini sedari awal sudah kupersiapkan

Telah aku duga bahwa hal demikian akan terjadi, tinggal menunggu momentnya


Sakit hati ini biarlah kusembuhkan sendiri

Yang aku pinta kepada Tuhan

Jika benar engkau pilihannya untukku, sesulit apapun jalannya akan dipersatukan

Namun jika tidak, semoga pertemuan ini menjadi pelajaran.



1.12

14 januarri 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Mengertilah, aku hanya berpura-pura

Di sudut kota yang ramai akan lalu-lalang kendaraan bermotor, aku terdiam, menyaksikan mereka yang mewarnai liku jalanan. Beberapa aku mendengar klakson kendaraan dibunyikan oleh pengemudinya, aku mendernya dan abai. Namun satu pengendara yang berhasil membuatku teramat marah, kesal, mengumpat. Bukan perkara klakson, bukan juga perkara bisingnya, namun perkara keindahannya yang hanya lewat sebentar. Aku ingin lebih menyaksikannya, setidaknya beberapa menit saja untuk memanjakan mata dalam mengimajinasikannya dalam kepala. Namun ia kelewat angkuh, hanya melintas sepersekian detik lantas meninggalkan sebuah kekesalan, harapan, kebahagiaan, sedih, menyakitkan. Kehadirannya hanya memporak porandakan pondasi terbiasa yang melekat dalam kepalaku, dalam isi dan gemintangnya.  Sampai detik ini, detik menuju senja pada tempat peraduannya aku tak kunjung juga menemuimu, nampaknya kau hanya mampir sekali, tanpa ada pengganti, tanpa ada ke dua kali. 11.25