Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2023

Rindu yang Bisu

                                                         Ilustrasi bintang di langit. [Shutterstock Biarkan aku mencintaimu dalam doa Dalam diam yang ramai di langit sana Biarkan Tuhanku saja yang mendengarnya Bukan kamu, bukan mereka(orang lain) Pra.. Sungguh hatiku selemah itu Ketahuilah pra, kamarku tak pernah rapi, ia selau berantakan Berserakan lantainya penuh dengan kertas-kertas bergambarkan rupamu yang membisu Saban petang kepalaku pening kau ramaikan Oleh cinta yang barangkali telah enggan sebelum dimulai Netra yang saban mengingatmu turut berbuta akan tangisnya Yang barangkali ia lebih gemar untuk lelap  Saban malam aku terjaga menyaksikan bintang yang kurangkai persatu Menjadikannya serupa denganmu Tak jarang pula setelahnya aku ditertawakan malam Dipincangkan habis-habisan, namun aku lebih menghiraukanmu Pra.. Barangkali semest...

Kamu dekat namun tak tergapai

 Pra..  Aku sedang melihatmu di sana Memasang mimik muka pasang persis air pantai  Kau memandangku dengan tatap bening seolah ingin meneteskan air mata Pra.. Ada apa denganmu hari ini? sedangkah aku membuatmu terluka? Sedangkah aku mengecewakanmu?  Hidupku tidak semenarik hidupmu, pra. maka jangan kau berantakkan isinya Sungguh aku amat mengagumimu Walau aku tahu kita tak akan pernah Aku mengharapkanmu Walau aku tahu akan hancur karenanya  Pra..  Sungguh jika terluka hatimu, maka terluka pula aku Jika lulu lantah isi kepalamu Maka punyaku telah lebih dulu pecah Aku ingin menggapaimu pra Namun aku menyadari bahwa tidak mungkin Aku ingin menjadi putri bunga yang selalu kau kagumi  Namun bukanlah engkau, akulah yang mengagumimu, biarkan aku saja Maka biarkan aku bahagia Bahagia dengan terus ber-angan Hingga pecah isi kepalaku Hingga terkoyak seluruh jiwa dan nadiku

Setelah Ini Kamu Akan Baik-Baik Saja

                                            https://www.pxfuel.com/id/free-photo-oqhxz Beberapa orang memilih untuk terlihat baik-baik saja hanya untuk melindungi dirinya dari perasaan belas kasih orang lain,  ingin dipandang bahwa ia sedang tidak memiliki maslah apa-apa, dan banyak lagi hal-hal yang melatarbelakangi keputusannya yang tentunya hal itu dipilihnya karena; yaa.. cukup dia aja yang tahu, cukup dia aja yang menanggung rasa sakitnya, dan cukup dia aja.. Jangan orang lain. Apakah kamu juga begitu? memilih untuk menyimpan rapat-rapat segala bentuk keluh kesahmu seorang diri? menanggung dan menjawab keresahan itu melalui nalurimu sendiri?  Keputusanmu untuk memilih diam daripada banyak berkata, bukan suatu kesalahan.Kukatakan bahwa,  kamu sangat luar biasa, sanggup memainkan peran pada satu tubuh sekaligus. Betapa aku melihatmu di keramaian; hati sembabmu ...