Langsung ke konten utama

Merindukanmu adalah Pekerjaan Paling Menyebalkan



Pada malam itu, 
Antara sunyi dan keramaian, dingin dan kehangatan, untuk kali pertama lensa mataku menatap kagum angkasa beserta cantik rembulannya, menatap kagum nelayan pada gelap malamnya. Tubuh ini menjadi saksi tiap hembus kenikmatan yang disuguhkan malam dengan elegannya. Menatap remang-remang lampu kota yang jauh di sudut sana, menatap perahu yang berlayar mengarungi pantai, dan banyak lagi kecantikan yang kusaksikan dengan cukup pada lensa mata, bukan kamera.

Malam itu terlihat ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor, dengan para pedagang kaki lima yang berbondong-bondong mendapatkan secuil penghasilan untuk dapat bertahan hidup, dengan teriakan bapak tukang parkir, dengan kerlap-kerlip bintang, dengan gemericik ombak yang menyapu bibir pantai. Tergambar nampak berisik, namun berisik itu tak mampu mengalihkan kerinduanku terhadapmu, aku masih sepi, pra yang mengusir kebisingan itu dari kepalaku, hanya pra yang membuat kegaduhan di sana, menciptakan drama yang terus menerus kuulang kepahitannya. 

Malam itu untuk kali pertama aku menghabiskan keindahan tanpa kehadiran pra, 
Untuk kali pertama aku meneguk mocacino tanpa ditemani pra
Jumlah gelasnya masih sama, minuman yang kupesan juga sama, 
namun dua penikmatnya telah berganti
Bukan lagi dengan pra
Bukan untuk pra
Namun rindunya  untuk pra

pra ketika itu datang..
Menyapaku, wajahnya terlihat manis, rambut yang tatanannya masih sama seperti satu tahun kemarin.
Namun pra sebatas menyapaku, tidak untuk menemani dan berbincang denganku
Sapaan yang amat sangat membuatku gagal tertawa.
lalu aku tersadar, ternyata semua itu hanya lamunan dan harapan

kebenarannya adalah..
malam ini aku mengharapkan Pra untuk datang
Sebab aku sangat merindukannya..
Kubuka ponsel menuju whatsap, lalu pada kolong chat kita(aku dan pra) ,
Kuketikkan kalimat "halo pra, bagaimana kabarmu, aku sedang rindu", chat itu hampir saja akan terkirim

 "baiknya kita masing-masing aja, jaga dirimu baik-baik yaa"
kalimat itu seketika menusuk relung jiwaku, chat yang dikirim oleh pra satu tahun lalu, dan tidak aku balas.




01.12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Mengertilah, aku hanya berpura-pura

Di sudut kota yang ramai akan lalu-lalang kendaraan bermotor, aku terdiam, menyaksikan mereka yang mewarnai liku jalanan. Beberapa aku mendengar klakson kendaraan dibunyikan oleh pengemudinya, aku mendernya dan abai. Namun satu pengendara yang berhasil membuatku teramat marah, kesal, mengumpat. Bukan perkara klakson, bukan juga perkara bisingnya, namun perkara keindahannya yang hanya lewat sebentar. Aku ingin lebih menyaksikannya, setidaknya beberapa menit saja untuk memanjakan mata dalam mengimajinasikannya dalam kepala. Namun ia kelewat angkuh, hanya melintas sepersekian detik lantas meninggalkan sebuah kekesalan, harapan, kebahagiaan, sedih, menyakitkan. Kehadirannya hanya memporak porandakan pondasi terbiasa yang melekat dalam kepalaku, dalam isi dan gemintangnya.  Sampai detik ini, detik menuju senja pada tempat peraduannya aku tak kunjung juga menemuimu, nampaknya kau hanya mampir sekali, tanpa ada pengganti, tanpa ada ke dua kali. 11.25

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi Tuan, hari ini kudapati relung hatiku tersayat Dengan elok kau ucap selamat pagi namun itu sekadar muslihat Teruntuk saya, teruntuk dirimu sendiri Betapa engkau kini telah tak sanggup saya pungkiri Tuan, mungkinkah engkau tetap menjadi payung saya yang teduh? Mungkinkah tuan engkau tiada lagi gaduh Perihal mencintaiku yang benar-benar dan diam Serta perihal aku yang mencintaimu dengan kepayang Tuan hari ini kau katakan bahwa asmara sedang kau kesampingkan Hari ini juga kau robohkan tembok kepercayaanku Hari ini kau pertegas anganku, bahwa aku hanyalah bunga diam yang kapansaja siap kau hinggapi Kaulah kupu itu yang terbang bebas, sedang aku hanya mengharap-harap kau kembali Tuan, benar aku mencintaimu Namun cinta ini demi sedikit membuatku layu Kadang aku mempertanyakan, kadar cinta yang kau beri, apakah itu ketulusan? Tuan, betapa sempurrna kau buat hatiku tersayat hebat Malam itu Tuan Aku bersikap bahwa aku tidak apa-apa Berlaga seperti aku sedang ...