Langsung ke konten utama

Dear, Selamat Jalan-Berbahagialah

                                      

                                                     (credit: freepik.com



"Apa kau baik-baik saja, dear? Apa kau menginginkan kita sampai di sini saja?" ucapku sambil meneteskan air mata



                                                                                                kaupun membalasnya dengan penuh penyesalan, terlihat di wajahmu.                                                                                                                                                         Begini katamu,

                                                                                                                       "Maaf aku telah cukup melukaimu mungkin jalan                                                                                                                                              baiknya kisah kita sampai di sini saja, jika                                                                                                                                                diteruskan yang ada aku akan semakin menyakitimu"

"IT'S OKEYY. THANKYOU"

......................................................

Dear, aku pernah mengagumimu begitu amat sangat hingga tanpa disadari aku pun mencintaimu, dan ternyata kaupun begitu. Cinta yang sedari awal tidak aku biarkan datang dan mengendap pada paru-paru dan hati kini telah bersarang di dalamnya. Cinta yang kurasa sedari awal akan menghancurkan batu yang keras, pun akhirnya terjadi. Siapa sangka aku seseorang yang belum bersedia membuka pintu hati namun kau telah mendapatkan kuncinya terlebih dulu sebelum kubersiap menggemboknya. Dengan percaya dirinya kau membuka pintu hatiku, tidakkah kau tahu dear, aku bahagia ketika itu, meski aku tahu bahwa setelahnya mungkin akan sakit. Namun aku tidak mau terlebih dahulu dipusingkan oleh sakit itu, sebab aku hanya ingin menikmati kebahagiaan itu. DAN KINI, DAPAT KUKATAKAN BAHWA AKU MENCINTAIMU. BEGITUPUN KAU.

Seiring berjalannya waktu beberapa bulan pun berlalu tanpa terasa, kita semakinlah dekat seperti telah menjadi dua insan yang telah ditakdirkan semesta, saling memberikan warna dan mewarnai, namun dari banyaknya warna yang kau coba torehkan pada kanvasku, entah kenapanya aku tidak menemui warna orange, aku tidak menemui warna biru, padahal kau tahu dear aku sangat menyukai ke dua warna itu, lantas aku bertanya sambil melebarkan senyum pada bibir, "mengapa tidak warna biru? mengapa tidak warna orange?" kau membalas senyumanku dan berkata "terima aja yaa apa yang ada" lantas tanpa berkata apapun aku diam membisu, termangu dan berantakan isi kepalaku, pertanyaan demi pertanyaan kuajukan pada isi hatiku. Aku pun mulai bertanya dan menanyakan mengenai kadar cinta yang kau berikan itu pada diri sendiri. Aku pernah terjebak pada ketakutan demi ketakutan bahwa mungkinkah cinta ini benar-benar untukku, dear? apakah kau membagi cintamu dengan selain aku? bukankah jika memang mencintai itu kau akan berusaha untuk menjadi apa yang aku sukai?

Sampai pada suatu ketika di mana pertanyaan itu perlahan dengan pasti, sedikit demi sedikit menemukan jawabannya. Kau yang jauh di sana terasa jauh pula di hati, tidak ada obrolan manis yang kita bangun lagi, tidak ada ketulusan untuk candaan yang kita sematkan dalam beranda chating, semua kini hanya tentang bertahan atau melepaskan. Kesibukan, keraguan, kekanak-kanakan, menyesal, kesalahan, ketidakcocokan, ketidak ikhlasan untuk menerima. Segala hal itulah yang kini membangun pikiranku. Tidak ada lagi perasaan saling memiliki atau mempertahankan

Kau tahu Dearr, sedih rasanya, rindu, amat sangat sungguh. Aku tidak ingin membohongi perasaanku sendiri. 

Bulan pun berganti, seiring usia hubungan kita yang semakin bertambah, semakin hambar pula rasanya. lalu.. sampai di titik;

KITA MENGUCAP SAMPAI JUMPA!! TAMAT SUDAH KISAHNYA!! 

Aku sedih, iyaa. Namun Dear, beruntungnya aku tidak teramat hancur ketika kenyataan itu harus terjadi. Bahwa aku tegaskan kembali, AKU TELAH BENAR-BENAR KEHILANGANMU!! Tidak menyangka, hancur, hingga kecewa aku rasakan. Namun dear jangan khawatir, sebab aku telah menduga hal ini akan terjadi. Tenanglah, aku tidak mengapa, aku telah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari. Aku telah memberikan jatah untuk kesedihanku hari ini, aku tidak sedang memikirkan apakah kau sedih juga di sana, apa kau rindu denganku seperti yang aku rasakan. Untuk saat ini yang jauh lebih kupedulikan adalah diriku sendiri. Aku mencoba bangkit dan membiasakan untuk melanjutkan kisah-kisahku tanpa warna dari kuasmu. Sebab, sebab aku percaya bahwa aku bisa mewarnai kanvasku sendiri tanpa bantuanmu.  Semua hanya perihal waktu dan kedewasaan serta penerimaan, bahwa pertemuan itu milik kepergian.

Dear, bukan hanya aku. Mereka di luar sana yang sedang jatuh cinta dan kehilangan juga merasakan moment ini, sedih dan patah lalu kecewa, kau telah masuk di rumah hatiku, lantas kau pamit dan mematahkan kuncimu di dalam pintu hatiku. Menyakitkan memang, kadang aku berfikir untuk apa harus bertemu jika ending yang memisahkan adalah keadaan, ketidakcocokan yang harusnya jika kau cukup dewasa, jika kau benar cinta bukan alasan itu yang kau sematkan. 

Namun lagi-lagi aku hanya sanggup mengucap, "tidak mengapa" yahh... tidak mengapa dear, pergilah, pergi sejauh kakimu melangkah, jika kau terjatuh, jika kakimu tertusuk duri, aku rasa kau telah cukup kuat untuk beberapa moment itu. Pertemuan kemarin adalah cerita yang tidak sengaja aku mulai, dengan orang asing yang telah beruntung dapat membuka pintu hatiku yang mungkin endingnya hal itu terlalu kau paksakan hingga kuncinya patah di engsel pintuku. yang sebelumnya telah ada yang berusaha bertamu, orang asing juga. Namun mereka hanya sampai pada mengetuknya saja. 

Pergilah dear, jikapun suatu saat nanti kita harus bertemu kembali, aku berharap bahwa perasaanku tidak lagi mengenali perannya dahulu. Bahwa aku mengenalmu hanya sebatas nama. Bukan untuk kisah dan lainnya, sebab kisah-kisah lalu cukuplah sebatas cerita saja. bukan untuk menjadi pigora yang kerap dipandang berulang.

Berbahagialah dear, dengan dunia, dengan pilihan yang kau pilih, dan pesanku, selalu lah belajar dari hari kemarin, jangan dulu mencintai jika belum sanggup berkorban waktu, janganlah mencintai jika belum rela direpotkan, janganlah mencintai jika hanya sekadar pelampiasan dari rasa yang belum selesai, janganlah mencintai jika belum sanggup menerima kekurangan. Sebab, sebab cinta yang tulus menurutku adalah mencintai dengan ikhlas tanpa mengharap timbal balik, cinta yang tulus adalah tak bersyarat dan menerima kekurangan. Selamat jalan Dear, selamat melukiskan kisah baru. Meski bukan lagi denganku:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Tanpa Kejelasan

Picture; pinterest Jadi selamat tinggal yaa Dengan siapapun kamu nanti, aku cuma mau bilang Bahwa yang penting dari suatu cerita adalah titik akhir yang pasti jangan biarkan ia ditulis terus tanpa kejelasan akan berhenti di mana cerita panjang namun tidak menentu, ternyata lebih jahat daripada cerita yang selesai jangan pernah bilang jalanin aja, cuma karena kamu takut buat bilang engga

Kamu dekat namun tak tergapai

 Pra..  Aku sedang melihatmu di sana Memasang mimik muka pasang persis air pantai  Kau memandangku dengan tatap bening seolah ingin meneteskan air mata Pra.. Ada apa denganmu hari ini? sedangkah aku membuatmu terluka? Sedangkah aku mengecewakanmu?  Hidupku tidak semenarik hidupmu, pra. maka jangan kau berantakkan isinya Sungguh aku amat mengagumimu Walau aku tahu kita tak akan pernah Aku mengharapkanmu Walau aku tahu akan hancur karenanya  Pra..  Sungguh jika terluka hatimu, maka terluka pula aku Jika lulu lantah isi kepalamu Maka punyaku telah lebih dulu pecah Aku ingin menggapaimu pra Namun aku menyadari bahwa tidak mungkin Aku ingin menjadi putri bunga yang selalu kau kagumi  Namun bukanlah engkau, akulah yang mengagumimu, biarkan aku saja Maka biarkan aku bahagia Bahagia dengan terus ber-angan Hingga pecah isi kepalaku Hingga terkoyak seluruh jiwa dan nadiku