......................................................
Dear, aku pernah mengagumimu begitu amat sangat hingga tanpa disadari aku pun mencintaimu, dan ternyata kaupun begitu. Cinta yang sedari awal tidak aku biarkan datang dan mengendap pada paru-paru dan hati kini telah bersarang di dalamnya. Cinta yang kurasa sedari awal akan menghancurkan batu yang keras, pun akhirnya terjadi. Siapa sangka aku seseorang yang belum bersedia membuka pintu hati namun kau telah mendapatkan kuncinya terlebih dulu sebelum kubersiap menggemboknya. Dengan percaya dirinya kau membuka pintu hatiku, tidakkah kau tahu dear, aku bahagia ketika itu, meski aku tahu bahwa setelahnya mungkin akan sakit. Namun aku tidak mau terlebih dahulu dipusingkan oleh sakit itu, sebab aku hanya ingin menikmati kebahagiaan itu. DAN KINI, DAPAT KUKATAKAN BAHWA AKU MENCINTAIMU. BEGITUPUN KAU.
Seiring berjalannya waktu beberapa bulan pun berlalu tanpa terasa, kita semakinlah dekat seperti telah menjadi dua insan yang telah ditakdirkan semesta, saling memberikan warna dan mewarnai, namun dari banyaknya warna yang kau coba torehkan pada kanvasku, entah kenapanya aku tidak menemui warna orange, aku tidak menemui warna biru, padahal kau tahu dear aku sangat menyukai ke dua warna itu, lantas aku bertanya sambil melebarkan senyum pada bibir, "mengapa tidak warna biru? mengapa tidak warna orange?" kau membalas senyumanku dan berkata "terima aja yaa apa yang ada" lantas tanpa berkata apapun aku diam membisu, termangu dan berantakan isi kepalaku, pertanyaan demi pertanyaan kuajukan pada isi hatiku. Aku pun mulai bertanya dan menanyakan mengenai kadar cinta yang kau berikan itu pada diri sendiri. Aku pernah terjebak pada ketakutan demi ketakutan bahwa mungkinkah cinta ini benar-benar untukku, dear? apakah kau membagi cintamu dengan selain aku? bukankah jika memang mencintai itu kau akan berusaha untuk menjadi apa yang aku sukai?
Sampai pada suatu ketika di mana pertanyaan itu perlahan dengan pasti, sedikit demi sedikit menemukan jawabannya. Kau yang jauh di sana terasa jauh pula di hati, tidak ada obrolan manis yang kita bangun lagi, tidak ada ketulusan untuk candaan yang kita sematkan dalam beranda chating, semua kini hanya tentang bertahan atau melepaskan. Kesibukan, keraguan, kekanak-kanakan, menyesal, kesalahan, ketidakcocokan, ketidak ikhlasan untuk menerima. Segala hal itulah yang kini membangun pikiranku. Tidak ada lagi perasaan saling memiliki atau mempertahankan
Kau tahu Dearr, sedih rasanya, rindu, amat sangat sungguh. Aku tidak ingin membohongi perasaanku sendiri.
Bulan pun berganti, seiring usia hubungan kita yang semakin bertambah, semakin hambar pula rasanya. lalu.. sampai di titik;
KITA MENGUCAP SAMPAI JUMPA!! TAMAT SUDAH KISAHNYA!!
Aku sedih, iyaa. Namun Dear, beruntungnya aku tidak teramat hancur ketika kenyataan itu harus terjadi. Bahwa aku tegaskan kembali, AKU TELAH BENAR-BENAR KEHILANGANMU!! Tidak menyangka, hancur, hingga kecewa aku rasakan. Namun dear jangan khawatir, sebab aku telah menduga hal ini akan terjadi. Tenanglah, aku tidak mengapa, aku telah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari. Aku telah memberikan jatah untuk kesedihanku hari ini, aku tidak sedang memikirkan apakah kau sedih juga di sana, apa kau rindu denganku seperti yang aku rasakan. Untuk saat ini yang jauh lebih kupedulikan adalah diriku sendiri. Aku mencoba bangkit dan membiasakan untuk melanjutkan kisah-kisahku tanpa warna dari kuasmu. Sebab, sebab aku percaya bahwa aku bisa mewarnai kanvasku sendiri tanpa bantuanmu. Semua hanya perihal waktu dan kedewasaan serta penerimaan, bahwa pertemuan itu milik kepergian.
Dear, bukan hanya aku. Mereka di luar sana yang sedang jatuh cinta dan kehilangan juga merasakan moment ini, sedih dan patah lalu kecewa, kau telah masuk di rumah hatiku, lantas kau pamit dan mematahkan kuncimu di dalam pintu hatiku. Menyakitkan memang, kadang aku berfikir untuk apa harus bertemu jika ending yang memisahkan adalah keadaan, ketidakcocokan yang harusnya jika kau cukup dewasa, jika kau benar cinta bukan alasan itu yang kau sematkan.
Namun lagi-lagi aku hanya sanggup mengucap, "tidak mengapa" yahh... tidak mengapa dear, pergilah, pergi sejauh kakimu melangkah, jika kau terjatuh, jika kakimu tertusuk duri, aku rasa kau telah cukup kuat untuk beberapa moment itu. Pertemuan kemarin adalah cerita yang tidak sengaja aku mulai, dengan orang asing yang telah beruntung dapat membuka pintu hatiku yang mungkin endingnya hal itu terlalu kau paksakan hingga kuncinya patah di engsel pintuku. yang sebelumnya telah ada yang berusaha bertamu, orang asing juga. Namun mereka hanya sampai pada mengetuknya saja.
Pergilah dear, jikapun suatu saat nanti kita harus bertemu kembali, aku berharap bahwa perasaanku tidak lagi mengenali perannya dahulu. Bahwa aku mengenalmu hanya sebatas nama. Bukan untuk kisah dan lainnya, sebab kisah-kisah lalu cukuplah sebatas cerita saja. bukan untuk menjadi pigora yang kerap dipandang berulang.
Berbahagialah dear, dengan dunia, dengan pilihan yang kau pilih, dan pesanku, selalu lah belajar dari hari kemarin, jangan dulu mencintai jika belum sanggup berkorban waktu, janganlah mencintai jika belum rela direpotkan, janganlah mencintai jika hanya sekadar pelampiasan dari rasa yang belum selesai, janganlah mencintai jika belum sanggup menerima kekurangan. Sebab, sebab cinta yang tulus menurutku adalah mencintai dengan ikhlas tanpa mengharap timbal balik, cinta yang tulus adalah tak bersyarat dan menerima kekurangan. Selamat jalan Dear, selamat melukiskan kisah baru. Meski bukan lagi denganku:)

Komentar
Posting Komentar