Langsung ke konten utama

Ayahku Bukan Badut


 Ayah..

Kulihat kelopak matamu yang hitam kegelapan

Telapak kaki yang tidak lagi terlihat garisnya

Tangan yang terlihat ruas-ruas tulangnya


Aku melihatmu sebatang kara

Dengan anak dan istri namun kau kepayang

Berlabuh pada samudra yang terbentang namun hanya seorang

Jerit payahmu tak ingin kau bagikan dengan kami


Ayah..

Aku ingin mendengar sekali saja keluhan dari bibirrmu

Aku ingin menatap tangis pada matamu sebab telah kepayang

Aku mengetahuinya ayah, namun aku diam


Aku tahu, bahwa kesakitan itu sejujurnya sedang kau simpan rapi

Di brankas dan hanya kau yang dapat menengoknyaa

Namun ayah, biarkan jika itu pedih limpahkan padaku

Jika tidak pada ibu, biar padaku saja


Ayah..

Aku ingin melihat senyum lebarmu namun bukan tipuan

Aku ingin melihatmu sebagai ayahku, bukan badut

Badut yang menggelitikkan isi kepalaku namun isi kepalamu sedang berantakan



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Kejelasan

Picture; pinterest Jadi selamat tinggal yaa Dengan siapapun kamu nanti, aku cuma mau bilang Bahwa yang penting dari suatu cerita adalah titik akhir yang pasti jangan biarkan ia ditulis terus tanpa kejelasan akan berhenti di mana cerita panjang namun tidak menentu, ternyata lebih jahat daripada cerita yang selesai jangan pernah bilang jalanin aja, cuma karena kamu takut buat bilang engga

Kamu dekat namun tak tergapai

 Pra..  Aku sedang melihatmu di sana Memasang mimik muka pasang persis air pantai  Kau memandangku dengan tatap bening seolah ingin meneteskan air mata Pra.. Ada apa denganmu hari ini? sedangkah aku membuatmu terluka? Sedangkah aku mengecewakanmu?  Hidupku tidak semenarik hidupmu, pra. maka jangan kau berantakkan isinya Sungguh aku amat mengagumimu Walau aku tahu kita tak akan pernah Aku mengharapkanmu Walau aku tahu akan hancur karenanya  Pra..  Sungguh jika terluka hatimu, maka terluka pula aku Jika lulu lantah isi kepalamu Maka punyaku telah lebih dulu pecah Aku ingin menggapaimu pra Namun aku menyadari bahwa tidak mungkin Aku ingin menjadi putri bunga yang selalu kau kagumi  Namun bukanlah engkau, akulah yang mengagumimu, biarkan aku saja Maka biarkan aku bahagia Bahagia dengan terus ber-angan Hingga pecah isi kepalaku Hingga terkoyak seluruh jiwa dan nadiku

Mengutuk Bus Jurusan Jogja

Sepanjang dua ribu dua dua aku mengutuk tiap-tiap bus jurusan jogja yang lewat di depan mata Melihat  mereka sama halnya mendaur ulang ingatan tentang kamu yang melangkah jauh dari bumiku. Sesaknya terasa lekat sampai-sampai merenggut ceriaku. Seperti bocah yang merengek kepada ibunya meminta dibelikan mainan; Aku terus menerus mengulang kalimat itu sampai banjir ingus. Membiarkan jantungku rungsap dilahap kangennya sendiri. Jogja tidak jauh asal kau masih bersamaku. Jogja tidak jauh asal kau masih kekasihku. Dan rindu tidak akan setragis ini kalau kita tidak pernah selesai. Tidak dengan alasan apapun.