Banyak orang yang terlampau patah hati ketika ditinggal pergi oleh pasangannya, sampai terkadang saya melihatnya sedikit merasa bingung, canggung, iba. Tak jarang terbesit dalam pikiran, betapa tega dia yang meninggalkan pasangannya itu. Tidakkah dia mengetahui betapa pasangan yang ditinggalkan itu teramat histeris dalam menangisinya, terlihat bahwa ia begitu amat mencintai kekasihnya itu. Namun makian itu segera saya tepis, sebab, sebab saya tidak mengetahui bagaimana hubungan mereka berjalan, problematika apa yang sebenarnya terjadi.
Begitulah cinta. Vase nya naik turun. Terkadang mungkin seseorrang yang sedang jatuh cinta itu berada di vase di mana bahagia teramat sangat hingga merasa bahwa dunia itu milik berdua. Namun di lain sisi kesedihan itu tidak dapat dielakkan bahwa ia akan datang. Teramat mencintai seseorang itu juga tidak baik, sebab kecenderungannya adalah, kebahagiaan akan digantungkan pada pada pasangannya. Yang sama-sama kita ketahui bahwa di dunia ini tidak ada pasangan yang sempurna. Suatu saat nanti, pasangan yang membahagiakan itu kelak akan menyakiti. Atau bahkan Ia akan meninggalkan, entah dengan cara apa ia pergi. karena maut yang memisahkan, atau ia sendiri yang meminta untuk pergi dan menyudahi. Saya bukan menakut-nakuti, sebab memang inilah yang nanti akan terjadi.
Menurut saya, untuk mengamankan hati sendiri sebelum direnggut habis oleh dia orang asing yang datang kemudian menjadi dekat dan menjadi asing kembali, maka bersiaplah untuk hati kita sendiri. Karena yaa, yang bertanggungjawab untuk kebahagiaan dan kesedihan adalah diri kita sendiri. Bukan dia ataupun mereka.
Komentar
Posting Komentar