Langsung ke konten utama

Mencintai dengan Sewajarnya

Banyak orang yang terlampau patah hati ketika ditinggal pergi oleh pasangannya, sampai terkadang saya melihatnya sedikit merasa bingung, canggung, iba. Tak jarang terbesit dalam pikiran, betapa tega dia yang meninggalkan pasangannya itu. Tidakkah dia mengetahui betapa pasangan yang ditinggalkan itu teramat histeris dalam menangisinya, terlihat bahwa ia begitu amat mencintai kekasihnya itu. Namun makian itu segera saya tepis, sebab, sebab saya tidak mengetahui bagaimana hubungan mereka berjalan, problematika apa yang sebenarnya terjadi. 

Begitulah cinta. Vase nya naik turun. Terkadang mungkin seseorrang yang sedang jatuh cinta itu berada di vase di mana bahagia teramat sangat hingga merasa bahwa dunia itu milik berdua. Namun di lain sisi kesedihan itu tidak dapat dielakkan bahwa ia akan datang. Teramat mencintai seseorang itu juga tidak baik, sebab kecenderungannya adalah, kebahagiaan akan digantungkan pada pada pasangannya. Yang sama-sama kita ketahui bahwa di dunia ini tidak ada pasangan yang sempurna. Suatu saat nanti, pasangan yang membahagiakan itu kelak akan menyakiti. Atau bahkan Ia akan meninggalkan, entah dengan cara apa ia pergi. karena maut yang memisahkan, atau ia sendiri yang meminta untuk pergi dan menyudahi. Saya bukan menakut-nakuti, sebab memang inilah yang nanti akan terjadi. 

Menurut saya, untuk mengamankan hati sendiri sebelum direnggut habis oleh dia orang asing yang datang kemudian menjadi dekat dan menjadi asing kembali, maka bersiaplah untuk hati kita sendiri. Karena yaa, yang bertanggungjawab untuk kebahagiaan dan kesedihan adalah diri kita sendiri. Bukan dia ataupun mereka.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Mengertilah, aku hanya berpura-pura

Di sudut kota yang ramai akan lalu-lalang kendaraan bermotor, aku terdiam, menyaksikan mereka yang mewarnai liku jalanan. Beberapa aku mendengar klakson kendaraan dibunyikan oleh pengemudinya, aku mendernya dan abai. Namun satu pengendara yang berhasil membuatku teramat marah, kesal, mengumpat. Bukan perkara klakson, bukan juga perkara bisingnya, namun perkara keindahannya yang hanya lewat sebentar. Aku ingin lebih menyaksikannya, setidaknya beberapa menit saja untuk memanjakan mata dalam mengimajinasikannya dalam kepala. Namun ia kelewat angkuh, hanya melintas sepersekian detik lantas meninggalkan sebuah kekesalan, harapan, kebahagiaan, sedih, menyakitkan. Kehadirannya hanya memporak porandakan pondasi terbiasa yang melekat dalam kepalaku, dalam isi dan gemintangnya.  Sampai detik ini, detik menuju senja pada tempat peraduannya aku tak kunjung juga menemuimu, nampaknya kau hanya mampir sekali, tanpa ada pengganti, tanpa ada ke dua kali. 11.25

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi Tuan, hari ini kudapati relung hatiku tersayat Dengan elok kau ucap selamat pagi namun itu sekadar muslihat Teruntuk saya, teruntuk dirimu sendiri Betapa engkau kini telah tak sanggup saya pungkiri Tuan, mungkinkah engkau tetap menjadi payung saya yang teduh? Mungkinkah tuan engkau tiada lagi gaduh Perihal mencintaiku yang benar-benar dan diam Serta perihal aku yang mencintaimu dengan kepayang Tuan hari ini kau katakan bahwa asmara sedang kau kesampingkan Hari ini juga kau robohkan tembok kepercayaanku Hari ini kau pertegas anganku, bahwa aku hanyalah bunga diam yang kapansaja siap kau hinggapi Kaulah kupu itu yang terbang bebas, sedang aku hanya mengharap-harap kau kembali Tuan, benar aku mencintaimu Namun cinta ini demi sedikit membuatku layu Kadang aku mempertanyakan, kadar cinta yang kau beri, apakah itu ketulusan? Tuan, betapa sempurrna kau buat hatiku tersayat hebat Malam itu Tuan Aku bersikap bahwa aku tidak apa-apa Berlaga seperti aku sedang ...