Langsung ke konten utama

Jingga Yang Misterius

Jingga sudakah kau berdamai dengan diri sendiri?

Mata yang lebam beberapa kau poles cream siang-malam

agar apa jingga? agarr terlihat cantik menawan?

Agar kepura-puraan itu tetap berjalan


Hendaknya kau adalah remaja cantik yang dijuluki bocah

Hendaknya kau memang menarik serta menawan

Terrlihat tak perrnah menangis saban harinya

Bibir yang menggambarkan bulan sabit


Kelopak matamu bak tetesan air yang mengkristal

Rambutmu yang terrgerai menawan

Cantik, sungguh amat cantik

Menawan, kuakui kau amatlah menawan


Namun aku melihatmu adalah suatu kepura-puraan belaka

Aku melihatmu jauh amat berbeda dari yang sesungguhnya aku perrhatikan

Engkau adalah wanita cantik dengan sejuta misterius

Hanya engkau sendiri yang mampu mengetahui itu



Namanya jingga, Ia adalah tokoh utama dalam ceritaku, aku menjadikannya tokoh utama. sebab.. sebab jingga adalah wanita yang berparas manis. dengan bulu matanya yang lentik, kulitnya yang kuning ke sawo matangan. jingga yang random dan ngga bisa ditebak maunya apa, jingga yang bikin penasaran, jingga yang suka menari di bawah derasnya hujan, basah kuyup kedinginan, anehnya, bibirrnya itu justru tersenyum lebar. yang kata orang-orang, sosok yang selalu menawan dengan kesederhanaannya, yang selalu menarik perhatian dengan tingkah konyolnya. Yang terlihat santai meski sedang banyak problematik dalam hidupnya. Jingga.. seperti namanya, ia dicintai pelanginya, akan sepi bila ia menghilang dari barisan warrna pelangi. Jingga pernah bilang pada hujan, bahwa mungkin ia mencintainya, tidak ada hujan, tidak ada pula dirinya, namun hujan yang ia cintai itu juga ia perrcayai bahwa tidak selamanya hujan akan membahagiakannya, pada beberapa moment jingga merasa kecewa kaena hujan. hujan yang ternyata menyakiti dirrinya, membuat seluruh badan-badannya menggigil amat sangat, bahkan ketika itu jingga terrlihat akan tewas, disambarr petir, dikoyak badai. yang jingga katakan ketika itu adalah "aku tetap mencintainya, sakit ini adalah bagian dari resiko yang memang akan ada, dan mustahil cinta ini hanyalah kebahagiaan" ia mengatakan itu sambil tersedu, matanya memerah, air matanya menetes dari mata lentiknya itu. Jingga cantik, ceria, bahkan hidupnya seperti tidak memiliki masalah, namun aku salah, tenyata di balik itu, jingga memendam banyak masalah yang mungkin saja cukup ia jadikan sebagai cerrita hidupnya saja, bukan untuk dibagikan kepada orang lain.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Kejelasan

Picture; pinterest Jadi selamat tinggal yaa Dengan siapapun kamu nanti, aku cuma mau bilang Bahwa yang penting dari suatu cerita adalah titik akhir yang pasti jangan biarkan ia ditulis terus tanpa kejelasan akan berhenti di mana cerita panjang namun tidak menentu, ternyata lebih jahat daripada cerita yang selesai jangan pernah bilang jalanin aja, cuma karena kamu takut buat bilang engga

Kamu dekat namun tak tergapai

 Pra..  Aku sedang melihatmu di sana Memasang mimik muka pasang persis air pantai  Kau memandangku dengan tatap bening seolah ingin meneteskan air mata Pra.. Ada apa denganmu hari ini? sedangkah aku membuatmu terluka? Sedangkah aku mengecewakanmu?  Hidupku tidak semenarik hidupmu, pra. maka jangan kau berantakkan isinya Sungguh aku amat mengagumimu Walau aku tahu kita tak akan pernah Aku mengharapkanmu Walau aku tahu akan hancur karenanya  Pra..  Sungguh jika terluka hatimu, maka terluka pula aku Jika lulu lantah isi kepalamu Maka punyaku telah lebih dulu pecah Aku ingin menggapaimu pra Namun aku menyadari bahwa tidak mungkin Aku ingin menjadi putri bunga yang selalu kau kagumi  Namun bukanlah engkau, akulah yang mengagumimu, biarkan aku saja Maka biarkan aku bahagia Bahagia dengan terus ber-angan Hingga pecah isi kepalaku Hingga terkoyak seluruh jiwa dan nadiku

Mengutuk Bus Jurusan Jogja

Sepanjang dua ribu dua dua aku mengutuk tiap-tiap bus jurusan jogja yang lewat di depan mata Melihat  mereka sama halnya mendaur ulang ingatan tentang kamu yang melangkah jauh dari bumiku. Sesaknya terasa lekat sampai-sampai merenggut ceriaku. Seperti bocah yang merengek kepada ibunya meminta dibelikan mainan; Aku terus menerus mengulang kalimat itu sampai banjir ingus. Membiarkan jantungku rungsap dilahap kangennya sendiri. Jogja tidak jauh asal kau masih bersamaku. Jogja tidak jauh asal kau masih kekasihku. Dan rindu tidak akan setragis ini kalau kita tidak pernah selesai. Tidak dengan alasan apapun.