Langsung ke konten utama

Bahwa yang Bukan Untukmu Akan Selalu Menemukan Jalannya Untuk Pergi

 Heiii!!

Dia kini meninggalkanmu, memilih untuk pergi jauh, berpamitan dan tidak menjanjikan untuk datang kembali. Tidak mengapa. it's okey. Seperti judul di atas. "Bahwa yang Bukan Untukmu Sekuat Apapun Kamu Menggenggam, pada Intinya Dia Akan Selalu Menemukan Caranya Untuk Meninggalkan"

Datang dan pergi adalah suatu moment yang selalu dijanjikan semesta untuk hal apapun yang melibatkan pertemuan. Namun meskipun kamu telah mengetahui hal itu, tetap saja hatimu kapanpun itu tidak menginginkan untuk kepergian. Katamu, "Plis jangan sekarang, aku masih mencintainya, aku masih membutuhkannya, aku masih ingin bahagia bersamanya" bahkan jika ada kesempatan kamu selalu meminta agar biarkan waktu berhenti sekarang ketika kamu sedang bersamanya.

Lihatlah betapa amat kamu mencintainya hingga tak ingin bahwa seseorang yang kamu cintai itu nantinya pergi meninggalkan. Kamu lupa, bahwa waktu tidak akan memberikan toleransi akan hal itu, waktu akan selalu memiliki caranya sendiri untuk mengatur, dan egoisnya ia tidak ingin diatur. 

Perlahan hari demi hari berlalu. Pertemuan, hubungan yang hendaknya kamu telah merasa bahwa ia sudah ingin pergi namun terikat oleh rasa kasihannya padamu sehingga tidak sanggup ia mengungkapkannya. Namun lihatlah pula, hubungan itu kini semakin hari semakin nampak hampa dan kosong, karena sebenarnya kamu telah menjalani hubungan yang sudah harusnya selesai namun sangat menyayangkan jika nanti akan menyakiti satu sama lain. 

Hingga akhirnya pada suatu ketika, hubungan itu usai sudah. Keputusannya untuk pergi adalah bukan suatu kesalahan, keputusannya untuk pamit dan pulang adalah bukan kejahatan. Sebab, sebab perasaan tidak dapat dibohongi, ketidakcocokan bukan untuk dipaksakan. Dia pamit sekarang, mengemasi seluruh baju serta peralatannya yang pernah ia gunakan untuk singgah di rumahmu. Ia pergi namun ia lupa membawa perasaan yang dibawakannya untukmu, katanya begini "aku titipkan itu untukmu, biarlah menjadi oleh-oleh, sedikitpun aku tidak mencicipi rasanya, barangkali jika kamu menemukan kegetiran sehingga membuat lidahmu terluka aku minta maaf, jangan dihabiskan, ataupun disimpan baik-baik. Karena yang ada itu semua akan melukaimu. Jika lidahmu tidak sanggup lagi mengunyahnya, titipkan saja makanan itu pada tokoh yang dapat mengolahnya agar lebih baik lagi, sehingga kamu tidak perlu lagi memaksakan diri untuk menghabiskan sekaligus membuangnya" xxxxxxx pecahhhhhh. Seketika tangisan pun pecah. Dan kamu masih duduk termenung memandangi kakinya yang hendak melangkah menjauhi rumahmu sambil mengatakan "benarkah ini? sedangkah aku bermimpi? kekhawatiran ini terjadi hari ini. Tuhan." Namun realitanya demikian.

Yah benar saja, perasaan tidak percaya, ingin marah, kecewa, ingin rasanya mengacak-acak semesta, menghentikan langkah kakinya yang perlahan menjauh. Tapi hal itu tidak sanggup kaulakukan. Apa yang lebih besar daripada amarah saat itu. Penolakan. Umpatan. Dan banyak lagi, namun.. namun seiring berjalannya waktu. Tuhan menunjukkan bahwa ternyata kamu lebih bahagia dengan diri kamu sendiri, Tuhan mengajakmu melihat bahwa ia bukan pilihan terbaik dari Tuhan untukmu. Tuhan mendatangkannya hanya untuk memberimu pelajaran.

satu minggu kemudian...

katamu kini yang sudah beranjak pulih sambil mengelus dada dan tampak berseri kembali wajah yang lama sudah tidak dihiasi senyuman, begini katamu, "Selamat jalan. Pergilah sejauh kapalmu berlayar, di perjalanan nanti kudoakan agar kamu tidak memasuki segita bermuda. Aku telah jauh membaik sekarang, bahkan dengan diri aku sendiri. Perpisahan dan kepergian itu membuatku lebih dewasa, dan mungkin aku hanya harus belajar lagi, perihal apapun yang memang perlu diperbaiki. Terimakasih untuk kedatangannya, terimakasih telah bertamu, membawakan oleh-oleh yang meski rasanya tidak sesuai dengan lidahku, aku menerimanya, aku memakannya dengan senang hati, jangan khawatir, oleh-oleh yang kamu bawakan itu tidak cukup menyakiti aku kog, aku telah baik-baik saja kini, esok sampai satu abad kemudian jika aku masih ada di dunia ini. aku kini telah membiasakan diri untuk terbiasa kembali dengan kehidupanku sebelum adanya kamu. Semoga kamu pun demikian "


-ditulisuntukdirisendiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Mengertilah, aku hanya berpura-pura

Di sudut kota yang ramai akan lalu-lalang kendaraan bermotor, aku terdiam, menyaksikan mereka yang mewarnai liku jalanan. Beberapa aku mendengar klakson kendaraan dibunyikan oleh pengemudinya, aku mendernya dan abai. Namun satu pengendara yang berhasil membuatku teramat marah, kesal, mengumpat. Bukan perkara klakson, bukan juga perkara bisingnya, namun perkara keindahannya yang hanya lewat sebentar. Aku ingin lebih menyaksikannya, setidaknya beberapa menit saja untuk memanjakan mata dalam mengimajinasikannya dalam kepala. Namun ia kelewat angkuh, hanya melintas sepersekian detik lantas meninggalkan sebuah kekesalan, harapan, kebahagiaan, sedih, menyakitkan. Kehadirannya hanya memporak porandakan pondasi terbiasa yang melekat dalam kepalaku, dalam isi dan gemintangnya.  Sampai detik ini, detik menuju senja pada tempat peraduannya aku tak kunjung juga menemuimu, nampaknya kau hanya mampir sekali, tanpa ada pengganti, tanpa ada ke dua kali. 11.25

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi Tuan, hari ini kudapati relung hatiku tersayat Dengan elok kau ucap selamat pagi namun itu sekadar muslihat Teruntuk saya, teruntuk dirimu sendiri Betapa engkau kini telah tak sanggup saya pungkiri Tuan, mungkinkah engkau tetap menjadi payung saya yang teduh? Mungkinkah tuan engkau tiada lagi gaduh Perihal mencintaiku yang benar-benar dan diam Serta perihal aku yang mencintaimu dengan kepayang Tuan hari ini kau katakan bahwa asmara sedang kau kesampingkan Hari ini juga kau robohkan tembok kepercayaanku Hari ini kau pertegas anganku, bahwa aku hanyalah bunga diam yang kapansaja siap kau hinggapi Kaulah kupu itu yang terbang bebas, sedang aku hanya mengharap-harap kau kembali Tuan, benar aku mencintaimu Namun cinta ini demi sedikit membuatku layu Kadang aku mempertanyakan, kadar cinta yang kau beri, apakah itu ketulusan? Tuan, betapa sempurrna kau buat hatiku tersayat hebat Malam itu Tuan Aku bersikap bahwa aku tidak apa-apa Berlaga seperti aku sedang ...