Memulai memanglah suatu perkara yang mudah, aku sebagai manusia tidak pernah luput juga dari keinginan untuk ini dan itu namun sudakah aku bertanggungjawab terhadap keputusan yang aku ambil itu?
Hari itu, di tengah malam yang sedikit berisik aku telah mengizinkan seseorang menjadi telinga untuk mendengar segala keluh kesah termasuk tawa. Seseorang yang saat itu bukan siapa-siapa. Obrolan yang semakin larut semakin kita menggunakan hati masing-masing untuk obrolan itu. Sampai pada suatu ketika di mana perasaan ini bagaikan diguguri bunga-bunga mekar, tak pernah sebersit pun terlintas di pikiran akan hal itu, tak pernah sedikitpun untukku mengira bahwa ia telah menyatakan keinginannya untuk meminangku dan menjadikanku bunga di kebunnya. Dan ketika itu aku mengiyakan semuanya, bersamaan dengan itu akupun menyadari bahwa akan ada resiko yang akan aku hadapi. Bersaing dengan hama misalnya, awal sempat bimbang dalam diri ini, akankah aku sanggup bertanggungjawab atas keputusan itu? untuk menjadi seseoang yang tidak hanya membahagiakan dirinya sendiri, namun juga betanggungjawab atas kebahagiaan dia. Sudakah aku sanggup bahwa selain menjaga perasaanku akupun perlu bertanggungjawab atas perasaan dia? Bisakah aku menjadikannya rumah ke dua yang dapat aku percaya sedangkan aku sendiri tidak perrnah pecaya dengan manusia selain daripada keluarga, sanggupkah aku menjadi seseorang yang baik, yang dapat memenuhi segala ekspektasinya? bersediakah aku untuk tidak menangis ketika harapan itu ternyata tidak dapat diwujudkan olehnya?
yaahh.. pertanyaan-demi pertanyaan itu tidak pernah aku tanyakan ketika dulu aku mengiyakan titipan kasih yang dia beri untukku. Aku merasa bahwa aku belum betanggungjawab untuk segala keputusanku malam itu. Malam penentuan untuk kemudian kisahku bersamanya dimulai.
Hari demi hai kita jalani, bahagia, sedih, kecewa, segalanya terasa. Sampai kita pernah ada di satu moment yang hanya terdengar suara kita berdua dengan candaan malam. Di satu moment itu tidak ingin waktu berjalan adalah suatu harapan. Rasanya waktu ingin sekali kuhentikan ketika itu juga. Namun tidaklah mungkin, mau tidak mau waktu akan berjalan terus bersamaan dengan perbincangan kita. Dan ketika itu aku kembali lagi merasakan bahwa apakah aku telah bertanggungjawab atas keputusanku? Keputusanku untuk mencintainya artinya bahwa aku perrlu untuk membahagiakannya, membuatnya merasa nyaman, dan akupun menginginkan bahwa bersama denganku ia tidak boleh merasa kehilangan atau disakiti orang lain. Namun, tenyata aku salah, apa yang aku upayakan ternyata bukan yang diinginkannya.
Dan benar bahwa ketika satu kata iya telah aku lafalkan artinya di saat itu juga aku perlu bertanggungjawab atasnya, namun apakah ketika itu aku telah bertanggungjawab?
Dan ternyata jawabannya adalah bukan perkara berrtanggungjawab atau tidak, namun lebih kepada bersedia menerima resikonya. Resiko bahwa selain mencintai kita juga harus berrsedia menerima sedih dan kecewanya, bahkan pun bosan dan kehilangan, sakit dan menangis, pada intinya kan hubungan selalu terkait dengan itu-itu saja. Berawal dari tidak saling kenal hingga kemudian menjadi dua insan yang terikat dan saling membahagiakan sampai di vase di mana kebanyakan dari pasangan ketika mereka sudah saling mengenal satu sama lain, saling mengetahui kekurangan masing-masing kebanyakan jika salah satu tidak bersedia untuk menerima, maka hubungan itu akan berakhir juga. Resiko, lagi-lagi setiap dari keputusan kita sekecil apapun itu akan mengandung resiko, jadi sebelum itu terjadi maka perlu kita sadari terlebih dahulu, agar kita nantinya dapat jauh lebih menerima.
Komentar
Posting Komentar