Langsung ke konten utama

Sudakah aku Bertanggungjawab atas Keputusanku?

Memulai memanglah suatu perkara yang mudah, aku sebagai manusia tidak pernah luput juga dari keinginan untuk ini dan itu namun sudakah aku bertanggungjawab terhadap keputusan yang aku ambil itu?

Hari itu, di tengah malam yang sedikit berisik aku telah mengizinkan seseorang menjadi telinga untuk mendengar segala keluh kesah termasuk tawa. Seseorang yang saat itu bukan siapa-siapa. Obrolan yang semakin larut semakin kita menggunakan hati masing-masing untuk obrolan itu. Sampai pada suatu ketika di mana perasaan ini bagaikan diguguri bunga-bunga mekar, tak pernah sebersit pun terlintas di pikiran akan hal itu, tak pernah sedikitpun untukku mengira bahwa ia telah menyatakan keinginannya untuk meminangku dan menjadikanku bunga di kebunnya. Dan ketika itu aku mengiyakan semuanya, bersamaan dengan itu akupun menyadari bahwa akan ada resiko yang akan aku hadapi. Bersaing dengan hama misalnya, awal sempat bimbang dalam diri ini, akankah aku sanggup bertanggungjawab atas keputusan itu? untuk menjadi seseoang yang tidak hanya membahagiakan dirinya sendiri, namun juga betanggungjawab atas kebahagiaan dia. Sudakah aku sanggup bahwa selain menjaga perasaanku akupun perlu bertanggungjawab atas perasaan dia? Bisakah aku menjadikannya rumah ke dua yang dapat aku percaya sedangkan aku sendiri tidak perrnah pecaya dengan manusia selain daripada keluarga, sanggupkah aku menjadi seseorang yang baik, yang dapat memenuhi segala ekspektasinya? bersediakah aku untuk tidak menangis ketika harapan itu ternyata tidak dapat diwujudkan olehnya? 

yaahh.. pertanyaan-demi pertanyaan itu tidak pernah aku tanyakan ketika dulu aku mengiyakan titipan kasih yang dia beri untukku. Aku merasa bahwa aku belum betanggungjawab untuk segala keputusanku malam itu. Malam penentuan untuk kemudian kisahku bersamanya dimulai.

Hari demi hai kita jalani, bahagia, sedih, kecewa, segalanya terasa. Sampai kita pernah ada di satu moment yang hanya terdengar suara kita berdua dengan candaan malam. Di satu moment itu tidak ingin waktu berjalan adalah suatu harapan. Rasanya waktu ingin sekali kuhentikan ketika itu juga. Namun tidaklah mungkin, mau tidak mau waktu akan berjalan terus bersamaan dengan perbincangan kita. Dan ketika itu aku kembali lagi merasakan bahwa apakah aku telah bertanggungjawab atas keputusanku? Keputusanku untuk mencintainya artinya bahwa aku  perrlu untuk membahagiakannya, membuatnya merasa nyaman, dan akupun menginginkan bahwa bersama denganku ia tidak boleh merasa kehilangan atau disakiti orang lain. Namun, tenyata aku salah, apa yang aku upayakan ternyata bukan yang diinginkannya. 

Dan benar bahwa ketika satu kata iya telah aku lafalkan artinya di saat itu juga aku perlu bertanggungjawab atasnya, namun apakah ketika itu aku telah bertanggungjawab?

Dan ternyata jawabannya adalah bukan perkara berrtanggungjawab atau tidak, namun lebih kepada bersedia menerima resikonya. Resiko bahwa selain mencintai kita juga harus berrsedia menerima sedih dan kecewanya, bahkan pun bosan dan kehilangan, sakit dan menangis, pada intinya kan hubungan selalu terkait dengan itu-itu saja. Berawal dari tidak saling kenal hingga kemudian menjadi dua insan yang terikat dan saling membahagiakan sampai di vase di mana kebanyakan dari pasangan ketika mereka sudah saling mengenal satu sama lain, saling mengetahui kekurangan masing-masing kebanyakan jika salah satu tidak bersedia untuk menerima, maka hubungan itu akan berakhir juga. Resiko, lagi-lagi setiap dari keputusan kita sekecil apapun itu akan mengandung resiko, jadi sebelum itu terjadi maka perlu kita sadari terlebih dahulu, agar kita nantinya dapat jauh lebih menerima.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Tanpa Kejelasan

Picture; pinterest Jadi selamat tinggal yaa Dengan siapapun kamu nanti, aku cuma mau bilang Bahwa yang penting dari suatu cerita adalah titik akhir yang pasti jangan biarkan ia ditulis terus tanpa kejelasan akan berhenti di mana cerita panjang namun tidak menentu, ternyata lebih jahat daripada cerita yang selesai jangan pernah bilang jalanin aja, cuma karena kamu takut buat bilang engga

Kamu dekat namun tak tergapai

 Pra..  Aku sedang melihatmu di sana Memasang mimik muka pasang persis air pantai  Kau memandangku dengan tatap bening seolah ingin meneteskan air mata Pra.. Ada apa denganmu hari ini? sedangkah aku membuatmu terluka? Sedangkah aku mengecewakanmu?  Hidupku tidak semenarik hidupmu, pra. maka jangan kau berantakkan isinya Sungguh aku amat mengagumimu Walau aku tahu kita tak akan pernah Aku mengharapkanmu Walau aku tahu akan hancur karenanya  Pra..  Sungguh jika terluka hatimu, maka terluka pula aku Jika lulu lantah isi kepalamu Maka punyaku telah lebih dulu pecah Aku ingin menggapaimu pra Namun aku menyadari bahwa tidak mungkin Aku ingin menjadi putri bunga yang selalu kau kagumi  Namun bukanlah engkau, akulah yang mengagumimu, biarkan aku saja Maka biarkan aku bahagia Bahagia dengan terus ber-angan Hingga pecah isi kepalaku Hingga terkoyak seluruh jiwa dan nadiku