Langsung ke konten utama

Pagi ini di seberang kamar yang hening dan gelap aku memperhatikan jarum jam yang seolah sedikit aku ingin memarahinya, memarahi detik dan menit yang berlalu, betapa amat sangat ia egois, sedikit sekali kesempatannya. Waktu, yahhh.. waktu, betapa ia sangat cepat sekali berlalu, kemarin aku menantikan hari esok, ketika tibalah hari esok itu, cepat sekali berlalunya, kadang ingin sekali aku menghentikan waktu, ketika itu juga. Aku ingin menikmati lebih banyak waktu, terutama bersama orang yang aku sayang. 

Tuhan, aku ingin mengatakan bahwa biarkan aku terjebak pada waktu ini saja, bersama dengannya, tidak ingin berganti orang dan tidak ingin berganti perasaan, tidak ingin merasa bosan, tidak ingin ada pertengkaran, sudah begini saja, aku merasa nyaman. Aku merasa betapa hari-hariku ini dipenuhi dengan cerita dengannya. Namun, namun mengapa kini waktu merenggutnya, secara paksa, bolekah aku memutarnya ke belakang, di mana aku merasa bahagia sekali, menyaksikan gemerlap lampu di malam hari bersama dengannya, berbagi cerrita, berkeluh kesah, namun semua kini harus berani kujalani sendirri, tuhann. kadang aku lelah, ingin bercerita pada manusia namun sedikit dari mereka tidak pernah ada yang benarr-benar tulus mendengarkan, mereka hanya berpura-pura tuhan. Aku lelah, dengan hidup yang nampaknya tidak seperti perkiraan orang lain padaku, tidak ada yang benar-benar bersedia mendengarkan. Tuhan, aku sendiri di sini, hanya bersama orang-orang yang menyayangiku, bersama ayah dan ibuku. Tidak ada lagi selain meeka yang cintanya benar-benar tulus. 

Tuhan. jika boleh pertemukan aku dengan sahabat yang mengajakku pada kebaikan, mencintaikau apaadanya, menyayangiku dengan tulus, tidak meninggalkanku ketika susah, yang selalu ada di sampingku, yang menganggapku seperti aku adalah keluarganya sendiri. Tuhan, kumohon jika boleh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Mengertilah, aku hanya berpura-pura

Di sudut kota yang ramai akan lalu-lalang kendaraan bermotor, aku terdiam, menyaksikan mereka yang mewarnai liku jalanan. Beberapa aku mendengar klakson kendaraan dibunyikan oleh pengemudinya, aku mendernya dan abai. Namun satu pengendara yang berhasil membuatku teramat marah, kesal, mengumpat. Bukan perkara klakson, bukan juga perkara bisingnya, namun perkara keindahannya yang hanya lewat sebentar. Aku ingin lebih menyaksikannya, setidaknya beberapa menit saja untuk memanjakan mata dalam mengimajinasikannya dalam kepala. Namun ia kelewat angkuh, hanya melintas sepersekian detik lantas meninggalkan sebuah kekesalan, harapan, kebahagiaan, sedih, menyakitkan. Kehadirannya hanya memporak porandakan pondasi terbiasa yang melekat dalam kepalaku, dalam isi dan gemintangnya.  Sampai detik ini, detik menuju senja pada tempat peraduannya aku tak kunjung juga menemuimu, nampaknya kau hanya mampir sekali, tanpa ada pengganti, tanpa ada ke dua kali. 11.25

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi Tuan, hari ini kudapati relung hatiku tersayat Dengan elok kau ucap selamat pagi namun itu sekadar muslihat Teruntuk saya, teruntuk dirimu sendiri Betapa engkau kini telah tak sanggup saya pungkiri Tuan, mungkinkah engkau tetap menjadi payung saya yang teduh? Mungkinkah tuan engkau tiada lagi gaduh Perihal mencintaiku yang benar-benar dan diam Serta perihal aku yang mencintaimu dengan kepayang Tuan hari ini kau katakan bahwa asmara sedang kau kesampingkan Hari ini juga kau robohkan tembok kepercayaanku Hari ini kau pertegas anganku, bahwa aku hanyalah bunga diam yang kapansaja siap kau hinggapi Kaulah kupu itu yang terbang bebas, sedang aku hanya mengharap-harap kau kembali Tuan, benar aku mencintaimu Namun cinta ini demi sedikit membuatku layu Kadang aku mempertanyakan, kadar cinta yang kau beri, apakah itu ketulusan? Tuan, betapa sempurrna kau buat hatiku tersayat hebat Malam itu Tuan Aku bersikap bahwa aku tidak apa-apa Berlaga seperti aku sedang ...