Langsung ke konten utama

SEMANGKUK BAKSO PAKAI SAMBAL PERASAAN

                                     SEMANGKUK BAKSO DAN ES JERUK


Di malam yang kabut akan riuh pengguna jalan raya

pegal-pegal rasanya badan sehabis perkuliahan

kantuk mata yang sedetik lagi barangkali rebah

Aku memilihmu untuk berlabuh, mengkompromikan perihal cerita hari ini


Semangkuk bakso dan es jeruk yang kau sajikan dengan epiknya

Menjerebahkan kangen-kangenku yang hampir tangis

Menikmati bakso panas sambil bercanda ria 

Sambil saling pandang jam yang melingkar di pergelangan tangan,

Bukan untuk buru-buru pulang, Namun berharap agar waktu berhenti saja di menit ke delapan

Agar tidak ada pukul sembilang, sepuluh atau seterusnya


Dan aku tahu, Kau pun demikian, Layar ponsel yang tidak ada notifikasi apa-apa sesekali kau mainkan, 

Tanpa sadar kali ke lima kau menyalakan ponselmu, Aku menebaknya kaupun seperti aku

Menatap jam yang terteera di sana. Cuma beda kau denganku, Tidak aku menatap ponsel

Sebab aku memakai jam tangan.


Kita bersua, menikmati langit malam, luap angin yang berusaha menepihkan tulang

Merengkuhkan tubuhmu begitupun tubuhku

Kita dalam satu frekuensi yang sama-Kedinginan

Entah kenapa angin malam itu amat dingin, atau dia sengaja agar kehangatan 

hanya datang melalui percakapan yang kita bangun


Namun, Cerita percakapan kita akan selalu tandas seirama dengan dering ponselmu

Panggilan itu seolah adalah kewajiban

Dan aku dengan mulutku yang masih berperasaan akan mengutarakan apa?

Aku hanya berada pada posisi yang serba salah, menuntutmu untuk memperhatikanku adalah keegoisan, namun tidak mengutarakan adalah menyakitkan


"Aku mau pulang"

Kata-kata itu seolah menghancurkan kesenangan yang kau bangun bersama ponselmu

Tapi jika tidak begitu, Deer, Aku akan kalah dengan hal yang kau anggap prioritas itu

Bahwa aku bukanlah prioritasmu, tidak mengapa. Aku bisa memahaminya.


"Aku antar"

"Tidak papa aku bisa sendiri"

Bukan tidak mau deer, namun aku tahu ada yang jauh lebih prioritas dibandingkan dengan membuang waktu dengan mengantarku.



Sidoarjo, 23 juni 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Mengertilah, aku hanya berpura-pura

Di sudut kota yang ramai akan lalu-lalang kendaraan bermotor, aku terdiam, menyaksikan mereka yang mewarnai liku jalanan. Beberapa aku mendengar klakson kendaraan dibunyikan oleh pengemudinya, aku mendernya dan abai. Namun satu pengendara yang berhasil membuatku teramat marah, kesal, mengumpat. Bukan perkara klakson, bukan juga perkara bisingnya, namun perkara keindahannya yang hanya lewat sebentar. Aku ingin lebih menyaksikannya, setidaknya beberapa menit saja untuk memanjakan mata dalam mengimajinasikannya dalam kepala. Namun ia kelewat angkuh, hanya melintas sepersekian detik lantas meninggalkan sebuah kekesalan, harapan, kebahagiaan, sedih, menyakitkan. Kehadirannya hanya memporak porandakan pondasi terbiasa yang melekat dalam kepalaku, dalam isi dan gemintangnya.  Sampai detik ini, detik menuju senja pada tempat peraduannya aku tak kunjung juga menemuimu, nampaknya kau hanya mampir sekali, tanpa ada pengganti, tanpa ada ke dua kali. 11.25

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi Tuan, hari ini kudapati relung hatiku tersayat Dengan elok kau ucap selamat pagi namun itu sekadar muslihat Teruntuk saya, teruntuk dirimu sendiri Betapa engkau kini telah tak sanggup saya pungkiri Tuan, mungkinkah engkau tetap menjadi payung saya yang teduh? Mungkinkah tuan engkau tiada lagi gaduh Perihal mencintaiku yang benar-benar dan diam Serta perihal aku yang mencintaimu dengan kepayang Tuan hari ini kau katakan bahwa asmara sedang kau kesampingkan Hari ini juga kau robohkan tembok kepercayaanku Hari ini kau pertegas anganku, bahwa aku hanyalah bunga diam yang kapansaja siap kau hinggapi Kaulah kupu itu yang terbang bebas, sedang aku hanya mengharap-harap kau kembali Tuan, benar aku mencintaimu Namun cinta ini demi sedikit membuatku layu Kadang aku mempertanyakan, kadar cinta yang kau beri, apakah itu ketulusan? Tuan, betapa sempurrna kau buat hatiku tersayat hebat Malam itu Tuan Aku bersikap bahwa aku tidak apa-apa Berlaga seperti aku sedang ...