Langsung ke konten utama

Secangkir Coklat Hangat dan Kopi Pahit Sore ini

  SECANGKIR COKLAT HANGAT  DAN KOPI PAHIT SORE INI 


Lihat, Coba lihat dengan netramu 

Indah bukan? Senja sedang mengadu dahaga

Memandang kita bak mangsa, Lucu sekali

Namun kita curiga, Kepala kita menerka-nerka


Heyy Tuan, Lihat itu

Sekali lagi coba lihat dengan netramu yang basah peluh

Apa yang kau lihat, Tuan?

Apakah Seonggak nafsu yang sedang menanti untuk luruh?


Tapi untuk sore ini, Aku ingin mengajakmu memilu

Dengan dua cangkir yang sama namun pada rasa yang berbeda

Aku dengan secangkir coklat, kau dengan secangkir kopi pahit

Sama-sama nikmat pada versi masing-masing


Filosofinya, aku membenci secangkir kopimu

Kau beringus dengan secangkir coklatku

Aku heran mengapa kau menyukai kepahitan

Namun kaupun heran mengapa aku menyukai manis


Kau pernah menyinggungku soal diabetes karena manis

Namun aku pun menyinggungmu dengan jantung kronis karena pahit

Pada vase paling menggigil di tengah sore yang hujan

Drama saling menyinggung menjadi topik paling hangat


Kopi dan coklat manis hangat sambil melihat badut menari-nari

Sambil mendebatkan persoalan diabetes ataupun jantung kronis

Tuan, apa kau merasakan kehangatan memeluk tubuhmu?

Apa kau merasakan tiupan udara yang perlahan memasuki urat nadimu?


Kopimu pahit bukan?

Namun kau katakan manis dan paling expresso

Aku menggidik dan menindik netraku hampar tak percaya

Namin tuan begitulah alam, memiliki sudut pandang mengambang

Sidoarjo, 17 June 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Mengertilah, aku hanya berpura-pura

Di sudut kota yang ramai akan lalu-lalang kendaraan bermotor, aku terdiam, menyaksikan mereka yang mewarnai liku jalanan. Beberapa aku mendengar klakson kendaraan dibunyikan oleh pengemudinya, aku mendernya dan abai. Namun satu pengendara yang berhasil membuatku teramat marah, kesal, mengumpat. Bukan perkara klakson, bukan juga perkara bisingnya, namun perkara keindahannya yang hanya lewat sebentar. Aku ingin lebih menyaksikannya, setidaknya beberapa menit saja untuk memanjakan mata dalam mengimajinasikannya dalam kepala. Namun ia kelewat angkuh, hanya melintas sepersekian detik lantas meninggalkan sebuah kekesalan, harapan, kebahagiaan, sedih, menyakitkan. Kehadirannya hanya memporak porandakan pondasi terbiasa yang melekat dalam kepalaku, dalam isi dan gemintangnya.  Sampai detik ini, detik menuju senja pada tempat peraduannya aku tak kunjung juga menemuimu, nampaknya kau hanya mampir sekali, tanpa ada pengganti, tanpa ada ke dua kali. 11.25

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi Tuan, hari ini kudapati relung hatiku tersayat Dengan elok kau ucap selamat pagi namun itu sekadar muslihat Teruntuk saya, teruntuk dirimu sendiri Betapa engkau kini telah tak sanggup saya pungkiri Tuan, mungkinkah engkau tetap menjadi payung saya yang teduh? Mungkinkah tuan engkau tiada lagi gaduh Perihal mencintaiku yang benar-benar dan diam Serta perihal aku yang mencintaimu dengan kepayang Tuan hari ini kau katakan bahwa asmara sedang kau kesampingkan Hari ini juga kau robohkan tembok kepercayaanku Hari ini kau pertegas anganku, bahwa aku hanyalah bunga diam yang kapansaja siap kau hinggapi Kaulah kupu itu yang terbang bebas, sedang aku hanya mengharap-harap kau kembali Tuan, benar aku mencintaimu Namun cinta ini demi sedikit membuatku layu Kadang aku mempertanyakan, kadar cinta yang kau beri, apakah itu ketulusan? Tuan, betapa sempurrna kau buat hatiku tersayat hebat Malam itu Tuan Aku bersikap bahwa aku tidak apa-apa Berlaga seperti aku sedang ...