Langsung ke konten utama

Hanya untuk singgah bukan bermaksud menetap

                                     HANYA SINGGAH BUKAN MEMILIKI


Sepotong roti ini sengaja kupotong lagi menjadi dua

Meski aku tahu perutku tidak akan kenyang memakannya

Meski aku tahu meyesal akan menghampiri 

Tidak mengapa Deer, Roti ini sesungguhnya telah kurelakan untukmu.


Sedari awal telah kusiapkan untukmu

Dengan resiko yang kutahu lambungku akan naik sesudahnya

Sebab porsi yang terlalu minimalis

Tapi untukmu, aku tidak mengapa


Pukul dua belas malam rupanya kau datang deer

mata yang sayu dan agaknya sedikit kantuk

Tanpa menatapku, 

"Selamat pagi deer"

Tanpa sahutan, Kau terdiam, mengambang, tenggelam, Aku menyodorkan sepotong roti yang sengaja kusisihkan untukmu


Roti ini penuh syarat namun menjadi tak bersyarat untukmu

Deer, untukmu asam lambungku tidak menjadi masalah

Menetaplah, akan kusuguhkan lebih banyak roti nantinya

Kuyakin, kau akan betah di sana


Hari ini hujan, Kebetulan sekali

Kau bisa agak berlama di sini

Aku berharap agar hujan ini tidak pernah reda, walau resikonya rumahku akan lebur terbenam

Tapi katamu, kau tidak tawar dengan badai dan menggigil, Kau memaksa untuk pulang

Sebab katamu rumahmu merupakan obat untuk dingin yang menggigil, hanya di situ. tidak ada tempat lain.




sidoarjo, 22 juni 2022


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pra kembali

https://id.wikihow.com/Menyusun-Jigsaw-Puzzle "Pra, Bagaimana menurutmu, indah bukan lukisan puzle itu? warna-warninya menarik, dan aku masih menyukainya, masih sama seperti dua tahun yang lalu, meskipun kini kamu tidak lagi bersamaku", ungkap Ara  Pra yang berdiri di depan Ara menyahuti dengan sedikit tertegun "Iya, Ra, bagus. Tidak ada yang berubah, aku saja yang berubah---" Pertemuan kembali yang tidak pernah dimulai, setelah berpisah tanpa pernah berkabar selama satu tahun, Pra kembali, namun bukan untuk menemui Ara, namun apa yang bisa disangka bahwa takdir mempertemukan kembali mereka berdua, di tempat lukis favorit sekaligus tempat terakhir mereka berjumpa.  Memang semesta terkadang begitu amat sangat rumit prediksinya, seseorang yang dulunya amat sangat dicintai dan telah dipercayai akan menjadi separuh dari hidup seseorang, ternyata diambilnya melalui kepergian, lalu dikembalikannya hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah lampau pergi. 19.01

Mengertilah, aku hanya berpura-pura

Di sudut kota yang ramai akan lalu-lalang kendaraan bermotor, aku terdiam, menyaksikan mereka yang mewarnai liku jalanan. Beberapa aku mendengar klakson kendaraan dibunyikan oleh pengemudinya, aku mendernya dan abai. Namun satu pengendara yang berhasil membuatku teramat marah, kesal, mengumpat. Bukan perkara klakson, bukan juga perkara bisingnya, namun perkara keindahannya yang hanya lewat sebentar. Aku ingin lebih menyaksikannya, setidaknya beberapa menit saja untuk memanjakan mata dalam mengimajinasikannya dalam kepala. Namun ia kelewat angkuh, hanya melintas sepersekian detik lantas meninggalkan sebuah kekesalan, harapan, kebahagiaan, sedih, menyakitkan. Kehadirannya hanya memporak porandakan pondasi terbiasa yang melekat dalam kepalaku, dalam isi dan gemintangnya.  Sampai detik ini, detik menuju senja pada tempat peraduannya aku tak kunjung juga menemuimu, nampaknya kau hanya mampir sekali, tanpa ada pengganti, tanpa ada ke dua kali. 11.25

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi

Hari Paling Hati-Hati Namun Terjadi Tuan, hari ini kudapati relung hatiku tersayat Dengan elok kau ucap selamat pagi namun itu sekadar muslihat Teruntuk saya, teruntuk dirimu sendiri Betapa engkau kini telah tak sanggup saya pungkiri Tuan, mungkinkah engkau tetap menjadi payung saya yang teduh? Mungkinkah tuan engkau tiada lagi gaduh Perihal mencintaiku yang benar-benar dan diam Serta perihal aku yang mencintaimu dengan kepayang Tuan hari ini kau katakan bahwa asmara sedang kau kesampingkan Hari ini juga kau robohkan tembok kepercayaanku Hari ini kau pertegas anganku, bahwa aku hanyalah bunga diam yang kapansaja siap kau hinggapi Kaulah kupu itu yang terbang bebas, sedang aku hanya mengharap-harap kau kembali Tuan, benar aku mencintaimu Namun cinta ini demi sedikit membuatku layu Kadang aku mempertanyakan, kadar cinta yang kau beri, apakah itu ketulusan? Tuan, betapa sempurrna kau buat hatiku tersayat hebat Malam itu Tuan Aku bersikap bahwa aku tidak apa-apa Berlaga seperti aku sedang ...